Masuknya pengusaha China Wang Jianlin ke Atletico Madrid menambah daftar pebisnis Asia yang berkecimpung di klub-klubΒ sepakbola Eropa. Tetapi langkah mereka itu tak selalu berbuah sukses.
Wang, yang menguasai Dalian Wanda Group, telah menggelontorkan uang sebesar 45 juta euro (sekitar Rp 651 miliar) untuk membeli 20 persen saham Atletico, Rabu (22/1/2015) kemarin. Hal itu membuat Wang menjadi pemilik saham terbesar ketiga di Atletico, cuma kalah dari Miguel Angel Gil Marin (CEO Atletico, 52%) dan Enrique Cerezo Torres (Presiden klub, 20%).
Bukan tak mungkin Wang berambisi untuk menancapkan pengaruhnya lebih besar lagi di masa depan jikalau naluri bisnisnya mengatakan bahwa Los Colchoneros, yang musim lalu jadi juara La Liga sekaligus finalis Liga Champions, merupakan investasi menjanjikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Vincent Tan (Cardiff City)
|
Getty Images/Scott Heavey
|
Setelah timnya promosi ke Premier League, pada Oktober 2013 Tan mencopot kepala perekrutan klubnya, Iain Moody, dan menggantikannya dengan pemuda Kazakhstan berumur 23 tahun, Alisher Apsalyamovby, yang sebelumnya merupakan karyawan magang. Apsalyamovby adalah putra dari seorang teman Tan. Beberapa bulan berselang, menyusul penyelidikan tentang visa Apsalyamovby, ia harus meninggalkan klub.
Pada musim 2013-14 itu pula Tan bersitegang dengan manajer Cardiff, Malky Mackay. Pada bulan Desember Tan memberi ultimatum kepada Mackay, berhenti dari klub atau dipecat, memunculkan kritikan dan cibiran dari media kepada si bos klub. Pada prosesnya Mackay dipecat di akhir Desember, disertai adanya klaim bahwa ia sempat mengirimkan SMS anti-China kepada Tan yang lalu menyebutnya rasialis.
Pada Januari 2014 Tan merekrut Ole Gunnar Solskjaer untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Mackay, tetapi ia tak mampu menyelematkan Cardiff dari terdegradasi di akhir musim. Saat ini Cardiff menempati posisi 13 di divisi Championship--kasta kedua Inggris.
2. Tony Fernandes (Queens Park Rangers)
|
Getty Images/Mike Hewitt
|
Pada satu titik ia sempat menggelontorkan jumlah uang terbesar untuk bayaran agen di liga, tetapi pemain-pemain rekrutan para agen itu pada akhirnya tak mampu menyelematkan klub London Barat itu dari terdegradasi di akhir musim 2012β13.
"Saya bukan orang yang sinis atau getir," katanya kepada Guardian saat itu. "Hidup terlalu singkat, Anda dirampok, tapi jika menyimpan dendam itu akan berpengaruh kepada Anda.
Musim ini QPR sudah kembali bermain di Premier League, kendati dengan berada di posisi 19--kedua dari bawah klasemen sementara--mereka sekali lagi berada dalam jeratan degradasi.
3. Carson Yeung (Birmingham City)
|
Getty Images/Victor Fraile
|
Setelah itu muncul klaim bahwa sosok-sosok yang ditunjuknya untuk menempati sejumlah posisi di Birmingham memiliki masalah dengan hukum. Masalah hukum itu sendiri pada prosesnya menjerat Yeung. Pada Maret 2014, sebulan setelah pengunduran dirinya dari segala posisi di Birmingham, ia terkena kasus pencucian uang dan divonis enam tahun penjara.
Saat ini Birmingham bermain di divisi Championship dan menempati posisi 11.
4. Venky (Blackburn Rovers)
|
Reuters/Andrew Yates
|
Pada November 2010 Venky membeli 99,9% kepemilikan Blackburn. Tak lama berselang grup itu memecat Sam Allardyce sebagai manajer dan menggantikannya dengan Steve Kean. Hal ini memicu kritikan, mengingat Allardyce amatlah dihormati dan sebaliknya Kean minim pengalaman. Bukan cuma para suporter dan pemain yang menyayangkan pergantian tersebut, Sir Alex Ferguson yang saat itu masih memanajeri Manchester United pun menyebut keputusan itu sebagai "amat konyol".
Pada 7 Mei 2012 Blackburn terdegradasi ke divisi Championship, sekaligus menyudahi periode 11 tahun berada di kompetisi level teratas Inggris--Premier League. Sejak dibeli Venky, klub itu juga disebut memiliki sejumlah masalah terkait manajer. Saat ini Blackburn, yang bermain di Championship dan menemapti posisi 10, juga ditaksir punya utang lebih dari 30 juta poundsterling.
"Kami amat menyesal bahwa sejauh ini kami belum mampu mempersembahkan kesuksesan yang kita semua inginkan buat Rovers," kata para pemilik klub itu di akhir musim lalu.
5. Shahid Khan (Fulham)
|
Getty Images/Clive Rose
|
Musim itu sendiri diawali Fulham dengan buruk, membuat Martin Jol dicopot dari posisinya pada Desember 2013 dan digantikan dengan Rene Meulensteen, yang kemudian sudah diberhentikan pada Februari 2014. Felix Magath masuk sebagai pengganti, walau akhirnya tak mampu menyelamatkan Fulham terdegradasi dari Premier League di akhir musim 2013-14.
Saat ini Fulham bermain di divisi Championship dan menempati posisi 14, dengan posisi manajer telah mengalami pergantian lagi menyusul dipecatnya Magath pada September 2014 untuk digantikan Kit Symons.
6. Erick Thohir (Inter Milan)
|
|
Setelah menjadi presiden Inter, banyak pihak menantikan gebrakan apa yang bakal dilakukan Erick Thohir guna membangkitkan kembali Inter yang sebelumnya pernah sangat berjaya di tangan Moratti--khususnya treble (Liga Champions, Serie A, dan Coppa Italia) musim 2009-10.
Namun demikian, banyak yang menilai kalau sejauh ini Erick Thohir belum banyak melakukan investasi serius untuk belanja pemain top. Maka kendatipun neraca keuangan La Beneamata saat ini disebut-sebut cukup seimbang, prestasi di lapangan belumlah memuaskan.
Musim lalu Inter finis di posisi lima papan klasemen Serie A, sedangkan musim ini masih berkutat di posisi sembilan. Performa yang kurang oke itu juga membuat pelatih Walter Mazzarri harus rela digantikan oleh Roberto Mancini pada November lalu.
7. Kisah Sukses dari Arab
|
Reuters/Andrew Yates
|
Salah satu yang paling menonjol tentunya adalah keberadaan taipan asal Arab di Manchester City. Menariknya, pengusaha Arab ini melakukan akuisisi di City dari tangan pengusaha Asia lainnya, Thaksin Shinawatra.
Di tangan Thaksin, City tak pernah benar-benar jadi penantang gelar--meskipun sudah menggebrak dengan merekrut sejumlah pemain dan menggaet Sven Goran Eriksson sebagai manajer. Eriksson pada prosesnya bahkan menyebut Thaksin tak paham sepakbola.
Pada September 2008, Thaksin melego kepemilikan City kepada Abu Dhabi United Group (ADUG) yang berada di bawah komando pengusaha Uni Emirat Arab bernama Mansour bin Zayed Al Nahyan, yang populer dengan nama Sheikh Mansour.
Di era Sheikh Mansour, barulah The Citizens menjelma jadi penantang serius di Premier League. Sekitar 1 miliar dolar AS diperkirakan telah dibelanjakan untuk merekrut sederet pemain top, untuk membuahkan dua titel Premier dalam tiga tahun selain juga trofi-trofi lainnya.
Selain Sheikh Mansour di Inggris, ada pula gebrakan yang dibuat oleh pebisnis Qatar Nasser Al-Khelaifi di Prancis. Melalui Qatar Sports Investments (QSI) yang menguasai 70% kepemilikan PSG pada Oktober 2011, Al-Khelaifi menjadi bos klub yang saat itu tak pernah lagi menjuarai Ligue 1 sejak 1993β94. Ketika itu ia juga langsung menegaskan tekad untuk membawa PSG ke puncak persepakbolaan Prancis dan Eropa.
Bukan sekadar bualan, tekad itu dibuktikan Al-Khelaifi dengan keberaniannya menggelontorkan uang demi menggaet pemain-pemain top seiring dengan langkah QSI menjadi pemilik tunggal PSG pada 2012. Trofi Ligue 1 dua musim terakhir juga berhasil dikuasai PSG yang kini juga menjadi salah satu kekuatan yang diwaspadai di Eropa.











































