Odegaard dan Cerita Para Wonderkid

Odegaard dan Cerita Para Wonderkid

- Sepakbola
Kamis, 22 Jan 2015 13:58 WIB
Odegaard dan Cerita Para Wonderkid
Getty Images/Trond Tandberg
Jakarta -

Istilah wonderkid lazim diberikan untuk pemain muda yang digadang-gadang menjadi bintang di masa depan. Tidak semua wonderkid berakhir menjadi bintang. Banyak di antaranya justru meredup.

Martin Odegaard, yang baru saja resmi bergabung dengan Real Madrid, jadi salah satu pemain yang mendapatkan label wonderkid. Bagaimana tidak, di usianya yang baru 15 tahun, dia sudah menjalani debut dengan tim nasional Norwegia.

Dia tercatat sebagai pemain termuda yang tampil di kualifikasi Piala Eropa, ketika membela negaranya pada laga melawan Bulgaria dalam usia 15 tahun dan 300 hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di negara asalnya, permainan Odegaard kerap disebut mirip dengan Lionel Messi. Berposisi sebagai gelandang serang, Odegaard punya kecepatan dan terbilang lincah. Dia lihai dalam menggiring bola dan tidak mudah kehilangan si kulit bundar ketika ditekan lawan.

Sudah begitu, dia juga disebut punya pemahaman yang baik akan taktik dan strategi. Atribut-atribut inilah yang membuatnya diincar beberapa klub top seperti Liverpool, Manchester United, Bayern Munich, dan Madrid, serta gadang-gadang menjadi pemain besar di masa depan.

Perkara Odegaard benar-benar menjadi pemain besar atau tidak masih harus ditunggu. Yang jelas, sudah banyak wonderkid gagal memenuhi ekspektasi yang dibebankan. Namun, tidak sedikit pula yang berhasil.

Berikut adalah beberapa contoh wonderkid yang pernah mencuat namanya. Beberapa sukses, beberapa lainnya tidak.



1. Freddy Adu

Freddy Adu sudah serupa folklore dalam dunia sepakbola. Seorang pemuda berusia 14 tahun tiba-tiba muncul dan langsung disebut-sebut sebagai pemain berbakat. Saking berbakatnya, pada usia itu dia sudah mendapatkan kontrak dari MLS.

Tapi, di mana Adu sekarang? Dia sempat jadi pemain dari FK Jagodina, klub anggota Liga Super Serbia, pada 2014 lalu. Adu tidak pernah memenuhi ekspektasi untuk menjadi pemain besar.

Kariernya mandek. Setelah bermain di DC United dan Salt Lake City di MLS, Adu pergi ke Eropa pada 2007 untuk bergabung dengan Benfica. Namun, beberapa kali dia dipinjamkan ke berbagai klub, mulai dari AS Monaco hingga klub Super Liga Turki, Caykur Rizespor. Selama bermain sebagai pemain pinjaman, Adu tidak pernah tampil lebih dari 11 kali di klub-klub itu.

Benfica kemudian melepasnya ke Philadelphia Union pada 2011, di mana dia tampil 35 kali dalam kurun waktu dua tahun. Setelahnya, Adu pindah ke Bahia dan jarang mendapatkan kesempatan tampil sampai akhirnya klub asal Brasil itu melepasnya pada November 2013.

Setelah gagal mendapatkan kontrak usai menjalani trial dengan AZ Alkmaar, Adu bergabung dengan Jagodina dengan kontrak selama enam bulan. Di Jagodina pun dia gagal --dia hanya pernah satu kali merumput di klub tersebut. Jagodina pun melepasnya pada 21 Desember silam.

2. Paul Pogba

Paul Pogba masuk dalam kategori wonderkid yang sukses. Pada 2009, ketika masih berusia 16 tahun, dia bergabung dengan akademi Manchester United. The Red Devils disebut beruntung mendapatkannya. Apalagi prosesnya tidak mudah mengingat klub Pogba sebelumnya, Le Havre, merasa sudah punya perjanjian dengan Pogba dan orang tuanya untuk tetap berada di klub sampai 2010.

Di United, dia hanya pernah tujuh kali bermain untuk tim utama. Merasa tidak mendapatkan kepercayaan dari pelatih United saat itu, Sir Alex Ferguson, Pogba memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya. Dia lantas bergabung dengan Juventus.

Bianconeri beruntung mendapatkannya dengan gratis. Sejak musim perdananya di Juventus, Pogba menjadi bagian penting dari skuat utama dan membantu Juventus menjuarai Serie A pada 2012/2013 dan 2013/2014.

Kini, Pogba yang berusia 21 tahun disebut-sebut sebagai salah satu gelandang terbaik di Eropa. Wajar jika kemudian banyak klub top lainnya dikabarkan mengincarnya.

Real Madrid adalah klub besar paling anyar yang disebut-sebut menginginkannya. Namun, tentu saja, Juventus enggan untuk melepasnya.

3. Anderson

Anderson lebih tepat masuk ke dalam kategori Freddy Adu ketimbang berada satu halaman dengan Paul Pogba. Dia sempat disebut sebagai pemain muda berbakat, tetapi sekarang kariernya begitu-begitu saja.

Anderson adalah "nomor 10" brilian di Piala Dunia U-17 tahun 2005 dengan banyak trik menarik di kakinya. Namun, begitu bermain untuk Manchester United, dia dialihfungsikan sebagai box-to-box midfielder. Sir Alex Ferguson rupanya menilai, dengan kemampuan fisiknya, Anderson cocok untuk mendapatkan peran tersebut.

Hasilnya, kemampuan terbaik Anderson tidak keluar. Hanya satu musim Anderson dinilai tampil impresif bersama United, yakni pada musim perdananya, 2007/2008. Selebihnya, dia tampil biasa-biasa saja dan akhirnya meredup sama sekali.

Anderson sempat mendapatkan penghargaan Golden Boy pada 2008. Penghargaan tersebut diberikan oleh para jurnalis olahraga untuk pemain-pemain muda terbaik yang bermain di Eropa. Wayne Rooney, Lionel Messi, Cesc Fabregas, dan Sergio Aguero adalah beberapa pemain yang pernah memenangi penghargaan tersebut.

Tapi, kini Anderson tidak terlihat seperti pemain yang pernah meraih penghargaan Golden Boy itu. Dia kesulitan untuk menembus tim utama United dan manajer 'Setan Merah' saat ini, Louis van Gaal, pernah menyebutnya untuk berusaha lebih keras supaya bisa dimainkan.

4. Raphael Varane

Nama Raphael Varane sudah mencuat ketika dia masih bermain untuk RC Lens di Liga Prancis. Ketika itu usianya masih 17 tahun. Varane tampil 23 kali pada musim perdananya bersama Lens dan menyumbang dua gol.

Hanya satu musim dia bermain untuk Lens. Ketika usianya 18 tahun, dia memilih untuk menerima pinangan Real Madrid. Kini, dia sudah bermain selama empat musim untuk Los Blancos dengan catatan 94 kali tampil di semua kompetisi.

Varane memang tidak selalu mendapatkan tempat di starting XI karena harus bersaing dengan Sergio Ramos dan Pepe. Namun, permainannya sebagai seorang bek tengah tetap mendapatkan pujian. Dia sempat disebut punya permainan yang mirip dengan bek legendaris Madrid, Fernando Hierro.

"Banyak yang membandingkannya dengan Fernando Hierro karena teknik yang dimilikinya. Tapi, dia lebih kuat secara fisik dan lebih cepat daripada Hierro," ucap mantan bek tim nasional Prancis, Franck Leboeuf.

Varane tampil bagus kala memperkuat Prancis di Piala Dunia 2014. Performanya di turnamen tersebut membuatnya masuk dalam nominasi Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2014. Namun, Varane gagal memenanginya. Dia kalah bersaing dengan Paul Pogba.

5. Anthony Vanden Borre

Mereka yang pernah bermain Football Manager tentu tahu Anthony Vanden Borre. Bersama dengan Vincent Kompany, Vanden Borre adalah bek muda menjanjikan yang kerap diincar para manajer di gim simulasi tersebut.

Namun, di dunia nyata, Vanden Borre tidak semenjanjikan itu. Jika Kompany melangkah dan sukses meraih berbagai gelar bersama Manchester City, Vanden Borre malah seperti jalan di tempat.

Usai pindah dari Anderlecht pada 2007, Vanden Borre bermain untuk dua klub Italia, Fiorentina dan Genoa. Namun, tidak ada satu pun yang sukses. Di Fiorentina, dia hanya bermain dua kali, sementara di Genoa dia juga jarang mendapatkan kesempatan tampil.

Setelah sempat dipinjamkan ke Portsmouth pada musim 2009/2010, Vanden Borre pulang ke negeri asalnya, Belgia. Di sana, dia bermain dua musim untuk RC Genk dan kini kembali merumput untuk Anderlecht.

Kendati demikian, dia sempat dipanggil memperkuat tim nasional Belgia untuk Piala Dunia 2014.

Halaman 2 dari 6
Freddy Adu sudah serupa folklore dalam dunia sepakbola. Seorang pemuda berusia 14 tahun tiba-tiba muncul dan langsung disebut-sebut sebagai pemain berbakat. Saking berbakatnya, pada usia itu dia sudah mendapatkan kontrak dari MLS.

Tapi, di mana Adu sekarang? Dia sempat jadi pemain dari FK Jagodina, klub anggota Liga Super Serbia, pada 2014 lalu. Adu tidak pernah memenuhi ekspektasi untuk menjadi pemain besar.

Kariernya mandek. Setelah bermain di DC United dan Salt Lake City di MLS, Adu pergi ke Eropa pada 2007 untuk bergabung dengan Benfica. Namun, beberapa kali dia dipinjamkan ke berbagai klub, mulai dari AS Monaco hingga klub Super Liga Turki, Caykur Rizespor. Selama bermain sebagai pemain pinjaman, Adu tidak pernah tampil lebih dari 11 kali di klub-klub itu.

Benfica kemudian melepasnya ke Philadelphia Union pada 2011, di mana dia tampil 35 kali dalam kurun waktu dua tahun. Setelahnya, Adu pindah ke Bahia dan jarang mendapatkan kesempatan tampil sampai akhirnya klub asal Brasil itu melepasnya pada November 2013.

Setelah gagal mendapatkan kontrak usai menjalani trial dengan AZ Alkmaar, Adu bergabung dengan Jagodina dengan kontrak selama enam bulan. Di Jagodina pun dia gagal --dia hanya pernah satu kali merumput di klub tersebut. Jagodina pun melepasnya pada 21 Desember silam.

Paul Pogba masuk dalam kategori wonderkid yang sukses. Pada 2009, ketika masih berusia 16 tahun, dia bergabung dengan akademi Manchester United. The Red Devils disebut beruntung mendapatkannya. Apalagi prosesnya tidak mudah mengingat klub Pogba sebelumnya, Le Havre, merasa sudah punya perjanjian dengan Pogba dan orang tuanya untuk tetap berada di klub sampai 2010.

Di United, dia hanya pernah tujuh kali bermain untuk tim utama. Merasa tidak mendapatkan kepercayaan dari pelatih United saat itu, Sir Alex Ferguson, Pogba memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya. Dia lantas bergabung dengan Juventus.

Bianconeri beruntung mendapatkannya dengan gratis. Sejak musim perdananya di Juventus, Pogba menjadi bagian penting dari skuat utama dan membantu Juventus menjuarai Serie A pada 2012/2013 dan 2013/2014.

Kini, Pogba yang berusia 21 tahun disebut-sebut sebagai salah satu gelandang terbaik di Eropa. Wajar jika kemudian banyak klub top lainnya dikabarkan mengincarnya.

Real Madrid adalah klub besar paling anyar yang disebut-sebut menginginkannya. Namun, tentu saja, Juventus enggan untuk melepasnya.

Anderson lebih tepat masuk ke dalam kategori Freddy Adu ketimbang berada satu halaman dengan Paul Pogba. Dia sempat disebut sebagai pemain muda berbakat, tetapi sekarang kariernya begitu-begitu saja.

Anderson adalah "nomor 10" brilian di Piala Dunia U-17 tahun 2005 dengan banyak trik menarik di kakinya. Namun, begitu bermain untuk Manchester United, dia dialihfungsikan sebagai box-to-box midfielder. Sir Alex Ferguson rupanya menilai, dengan kemampuan fisiknya, Anderson cocok untuk mendapatkan peran tersebut.

Hasilnya, kemampuan terbaik Anderson tidak keluar. Hanya satu musim Anderson dinilai tampil impresif bersama United, yakni pada musim perdananya, 2007/2008. Selebihnya, dia tampil biasa-biasa saja dan akhirnya meredup sama sekali.

Anderson sempat mendapatkan penghargaan Golden Boy pada 2008. Penghargaan tersebut diberikan oleh para jurnalis olahraga untuk pemain-pemain muda terbaik yang bermain di Eropa. Wayne Rooney, Lionel Messi, Cesc Fabregas, dan Sergio Aguero adalah beberapa pemain yang pernah memenangi penghargaan tersebut.

Tapi, kini Anderson tidak terlihat seperti pemain yang pernah meraih penghargaan Golden Boy itu. Dia kesulitan untuk menembus tim utama United dan manajer 'Setan Merah' saat ini, Louis van Gaal, pernah menyebutnya untuk berusaha lebih keras supaya bisa dimainkan.

Nama Raphael Varane sudah mencuat ketika dia masih bermain untuk RC Lens di Liga Prancis. Ketika itu usianya masih 17 tahun. Varane tampil 23 kali pada musim perdananya bersama Lens dan menyumbang dua gol.

Hanya satu musim dia bermain untuk Lens. Ketika usianya 18 tahun, dia memilih untuk menerima pinangan Real Madrid. Kini, dia sudah bermain selama empat musim untuk Los Blancos dengan catatan 94 kali tampil di semua kompetisi.

Varane memang tidak selalu mendapatkan tempat di starting XI karena harus bersaing dengan Sergio Ramos dan Pepe. Namun, permainannya sebagai seorang bek tengah tetap mendapatkan pujian. Dia sempat disebut punya permainan yang mirip dengan bek legendaris Madrid, Fernando Hierro.

"Banyak yang membandingkannya dengan Fernando Hierro karena teknik yang dimilikinya. Tapi, dia lebih kuat secara fisik dan lebih cepat daripada Hierro," ucap mantan bek tim nasional Prancis, Franck Leboeuf.

Varane tampil bagus kala memperkuat Prancis di Piala Dunia 2014. Performanya di turnamen tersebut membuatnya masuk dalam nominasi Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2014. Namun, Varane gagal memenanginya. Dia kalah bersaing dengan Paul Pogba.

Mereka yang pernah bermain Football Manager tentu tahu Anthony Vanden Borre. Bersama dengan Vincent Kompany, Vanden Borre adalah bek muda menjanjikan yang kerap diincar para manajer di gim simulasi tersebut.

Namun, di dunia nyata, Vanden Borre tidak semenjanjikan itu. Jika Kompany melangkah dan sukses meraih berbagai gelar bersama Manchester City, Vanden Borre malah seperti jalan di tempat.

Usai pindah dari Anderlecht pada 2007, Vanden Borre bermain untuk dua klub Italia, Fiorentina dan Genoa. Namun, tidak ada satu pun yang sukses. Di Fiorentina, dia hanya bermain dua kali, sementara di Genoa dia juga jarang mendapatkan kesempatan tampil.

Setelah sempat dipinjamkan ke Portsmouth pada musim 2009/2010, Vanden Borre pulang ke negeri asalnya, Belgia. Di sana, dia bermain dua musim untuk RC Genk dan kini kembali merumput untuk Anderlecht.

Kendati demikian, dia sempat dipanggil memperkuat tim nasional Belgia untuk Piala Dunia 2014.

(roz/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads