Nyawa Melayang Lagi di Liga Mesir

Nyawa Melayang Lagi di Liga Mesir

- Sepakbola
Senin, 09 Feb 2015 11:30 WIB
Nyawa Melayang Lagi di Liga Mesir
Kairo -

Setidaknya 22 orang meninggal di stadion, dalam sebuah laga Liga Mesir antara Zamalek dan ENPPI. Insiden ini memperpanjang kisah pilu sepakbola negeri Piramida itu.

Insiden ini kabarnya bermula dari kekacauan di pintu masuk Air Defense Stadium, yang terletak di sebelah timur kota Kairo. Disebutkan bahwa suporter Zamalek saat itu berupaya menerobos masuk untuk menyaksikan laga, lalu ditanggapi dengan represif oleh pihak keamanan.

BBC melaporkan gas air mata dan senapan-senapan angin ditembakkan ke arah suporter yang berkerumun. Para suporter sendiri membalas tuduhan memaksa masuk stadion, dengan menuding pihak keamanan memicu hal tersebut karena hanya membuka satu pintu saja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tiba-tiba pasukan keamanan mulai menembakkan gas air mata dan senapan angin ke seluruh penjuru," ujar seorang saksi mata seperti dilaporkan wartawan BBC, Orla Guerin.

Kerusuhan pun terjadi dan membesar usai pagar kawat berduri rubuh diterjang kerumunan suporter. Dikabarkan bahwa sepatu-sepatu berserakan di lokasi kejadian menjadi bukti kekacauan yang terjadi. Kekacauan itu membuat para suporter mulai berjatuhan dan tertindih satu sama lain.

"Kami membawa orang-orang pergi. Demi menyelamatkan mereka terinjak-injak sampai mati," tambah saksi mata yang lainnya.

Kejadian ini mengingatkan kembali akan tragedi serupa tiga tahun lalu di mana 74 orang suporter meninggal di sebuah pertandingan.

Pihak keamanan lantas bertindak dengan memburu pemimpin kelompok suporter garis keras Zamalek yang dikenal dengan nama Ultras White Knight. Hubungan antara suporter dan pihak keamanan sendiri dipastikan meruncing.

Sejak 2011 silam, kala terjadi pergolakan politik, hubungan antara kedua kubu itu memang memanas. Saat itu, sejumlah kelompok suporter garis keras memegang peran besar membantu rakyat Mesir menggulingkan pemerintah otoriter rezim Hosni Mobarak. Di sinilah titik mula ketegangan dengan pihak keamanan.

Adalah para suporter garis keras yang dengan gagah berani berdiri di garis depan bentrokan-bentrokan dengan pasukan keamanan. Mereka pula yang mengajak masyarakat Mesir untuk bergerak tanpa rasa takut, bahkan mengajarkan cara memukul mundur polisi.

Sejarah turut mencatat untuk pertama kalinya saat itu sejumlah kelompok suporter yang berseberangan mampu berjuang bersama, bersatu dengan rakyat Mesir. Hingga saat ini, hubungan kelompok-kelompok suporter ini dengan pihak keamanan semakin panas.

(raw/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads