Hak Pemain Tak Terpenuhi, Ancaman Mogok Mencuat

Hak Pemain Tak Terpenuhi, Ancaman Mogok Mencuat

- Sepakbola
Jumat, 20 Feb 2015 11:46 WIB
Hak Pemain Tak Terpenuhi, Ancaman Mogok Mencuat
Getty Images/George Frey
Jakarta -

Sepanjang sejarah sepakbola, ada beberapa kasus di mana sebuah liga terancam ditunda atau terhenti lantaran pemain-pemainnya mengancam mogok. Para pemain tersebut mengancam mogok lantaran merasa hak mereka belum dipenuhi oleh pihak liga dan klub.

Pada tahun 1960, asosiasi pemain profesional Inggris (PFA), yang dipimpin oleh Jimmy Hill, melancarkan sebuah protes. Ketika itu mereka meminta penghapusan dari batas maksimal gaji pemain --yang waktu itu berjumlah 20 poundsterling.

Pertemuan antara PFA, federasi sepakbola Inggris (FA), the Football League, dan Kementerian Buruh, pun dilakukan. Lewat pertemuan itu, the Football League memutuskan untuk menaikkan batas maksimal gaji pemain menjadi 30 poundsterling.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak puas dengan keputusan tersebut, dalam sebuah pertemuan PFA di London, 250 orang pemain mengeluarkan wacana untuk mogok. Dua pertemuan tambahan kemudian dilangsungkan dan jumlah pemain yang mengancam mogok meningkat. Di antara 712 pemain yang ada, hanya 18 di antaranya yang menentang mogok.

Tiga hari menjelang aksi mogok berlangsung, yakni pada 18 Januari, the Football League akhirnya memutuskan untuk menghapus sistem batas maksimal gaji pemain. Aksi mogok tersebut pun urung berlangsung.

Pada tahun 2010, liga profesional sepakbola Amerika Serikat, MLS, sempat terancam tertunda penyelenggaraannya. Penyebabnya, kesepakatan antara MLS dan asosiasi pesepakbola MLS (MLSPU) terkait collective bargaining agreement tidak tercapai.

Apa itu itu collective bargaining agreement (CBA)? CBA adalah sebuah perjanjian komersial yang biasanya terjalin antara manajemen perusahaan (dalam hal ini MLS) dengan serikat pekerja (dalam hal ini MLSPU). CBA biasanya dinegosiasikan secara kolektif, artinya apa yang diajukan oleh serikat pekerja merupakan kemauan seluruh pekerja yang tergabung di dalamnya.

CBA menyangkut berbagai hal, mulai dari hak-hak dari pekerja sampai kewajiban yang wajib dipenuhi oleh manajemen perusahaan. Ketika itu, CBA antara MLS dan MLSPU berakhir masa kontraknya pada 31 Januari 2010. MLS lantas menawarkan kesepakatan baru, namun para pemain merasa CBA yang ditawarkan oleh pihak MLS tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Alhasil, para pemain pun mengancam mogok. Beruntung, kubu MLS dan MLSPU akhirnya mencapai kata sepakat lima hari menjelang kick-off MLS dilangsungkan. Kedua kubu setuju menandatangani CBA baru yang berdurasi lima tahun --hingga 2015. Kick-off MLS pun berjalan sesuai rencana.

Di Indonesia sendiri, kasus pemain tidak terpenuhi haknya sudah sering terjadi. Gaji pemain belum terbayar adalah sesuatu yang jamak terjadi setiap tahunnya di Liga Indonesia.

Bahkan, kick-off ISL tahun 2015 pun terpaksa ditunda setelah Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi tidak menurunkan rekomendasi. Imam bertindak demikian setelah mendapatkan saran dari Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI).

BOPI tidak menyarankan liga digelar sampai klub-klub ISL memenuhi syarat-syarat yang diajukan BOPI, seperti kontrak pemain, pelunasan tunggakan gaji, dan penyertaan bukti pembayaran pajak.

Beberapa klub ISL pun bersuara keras terkait penundaan ini. Salah satunya adalah Arema Cronus. Lewat CEO-nya, Iwan Budianto, Arema menilai bahwa penundaan ini telah merugikan mereka.

"Menpora dan BOPI jangan bangga berhasil menunda ISL. Karena justru ini sebuah kerugian yang dampaknya luar biasa. Klub dirugikan itu sudah pasti. Sponsor pun akan berteriak. Karena mereka sudah menyusun jadwal juga untuk sebuah promosi," kata Iwan dalam rilis yang disebarkan, Kamis (19/2).

Di sisi lain, salah seorang eks pemain Arema, Munhar, justru sedang menuntut Arema untuk melunasi gajinya. Munhar, yang kini sudah pindah ke Persebaya, mengeluarkan uneg-unegnya di media sosial. Aksi Munhar ini pun mendapatkan dukungan dari wakil presiden Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI), Bambang Pamungkas.

(roz/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads