Dikutip dari BBC, FIFA belum mengeluarkan jadwal resmi jam berapa proses pemilihan akan berlangsung. Namun diyakini itu akan dimulai pada Jumat (29/5/2015) siang waktu Zurich.
Berikut data, fakta, dan penjelasan seputar proses pemilihan presiden FIFA, sebagaimana dikutip dari BBC dan Reuters:
Para Penantang
Setelah awalnya ada beberapa orang yang mengajukan diri dalam pencalonan ini, pada akhirnya tinggal dua kandidat yang tersisa. Mereka adalah presiden incumbent Joseph 'Sepp' Blatter dan penantangnya Pangeran Ali Prince Ali bin Al-Hussein.
Sejak awal Blatter (79 tahun) sudah diunggulkan untuk memenangi pemilihan ini dan maju sebagai presiden FIFA untuk kali kelima. Namun gejolak besar yang terjadi di FIFA, yang diawali penangkapan beberapa pejabat terasnya, diyakini bisa mengubah peta kekuatan.
Pangeran Ali yang berusia 40 tahun lebih muda mendapat dukungan dari UEFA, sementara AFC sudah menyatakan tetap berada di belakang Blatter.
Kapanye dan Program
Berdasarkan profie Blatter di situs resmi FIFA, disebutkan kalau "aspirasi dan pesan utama dalam pemilihan kali ini adalah soal transparansi dan fairplay". Sementara filosofinya adalah: "sepakbola untuk semua, semua untuk sepakbola"
Sedangkan Pangeran Ali menyatakan kalau dia akan "mengalihkan fokus yang datang ke FIFA dari sebelumnya soal kontroversi-kontroversi dalam hal administrasi dan kembali ke urusan olahraga", sehingga FIFA lebih transparan dan lebih merata dalam membagi pemasukan yang didapat.
Bagaimana Proses Pemilihan Berlangsung
Pemilihan dilakukan melalui pemungutan suara yang dilakukan secara tertutup. Total ada 209 anggota FIFA yang akan memberikan suaranya, di mana setiap anggota diberikan kesempatan memberikan suara berdasarkan abjad.
Untuk bisa memenangi pemilihan melalui satu putaran, kandidat presiden harus dipilih oleh 2/3 anggota yang datang - atau sejumlah 140 suara jika semua anggota FIFA hadir. Sementara jika di putaran pertama tidak ada kandidat yang meraih 2/3 suara, maka akan langsung dilakukan putaran kedua.
Untuk bisa memenangi putaran kedua, salah seorang kandidat harus mengumpulkan suara terbanyak (lebih dari 50%).
Namun jika tidak ada yang mengumpulkan lebih dari 50% (hanya terjadi jika ada lebih dari dua kandidat presiden) maka dilakukan pemungutan suara ulang namun dengan pengumpul jumlah suara paling kecil tidak disertakan. Proses tersebut harus dilakukan berulang sampai didapat suara mayoritas (lebih dari 50%).
Siapa Saja yang Bisa Memilih
Total ada 209 anggota FIFA yang punya hak pilih. Sebagai catatan, tidak semua anggota FIFA adalah negara.
Salah satunya adalah Montserrat, sebuah daerah teritori Inggris yang terletak di Karibia. Meski cuma punya penduduk 4,900 orang, mereka punya satu hak suara yang dengan India, yang punya penduduk 1,2 miliar.
Siapa Memilih Siapa?
Ini adalah tanda tanya besar. Karena proses pemungutan suara dilakukan tertutup, maka tidak diketahui siapa yang memilih siapa.
Namun begitu, sebagian besar dari enam konfederasi yang ada sudah menyatakan dukungan pada salah satu pihak. AFC (46 anggota) dan CAF (54 anggota), misalnya, sudah menyatakan dukungan pada Sepp Blatter. Sementara Michel Platini, Presiden UEFA, menyatakan kalau mayoritas dari 53 anggotanya akan memilih Pangeran Ali. Sementara itu Australia menyatakan mendukung Pangeran Ali.
Blatter selama ini selalu mendapat dukungan dari CONCACAF, yang presidennya, Jeffrey Webb, menjadi salah satu orang yang ditangkap kepolisian Swiss dan FBI.
Belum diketahui bagaimana sikap negara-negara Amerika Selatan dan Oceania.
Abstain, Bisakah?
Bisa. Pada pemilihan presiden di 2011 lalu ada enam negara menyatakan abstain. Inggris adalah salah satunya ketika itu, setelah Mohammed bin Hammam, yang jadi satu-satunya pesaing Blatter, mundur hanya satu hari sebelum pemilihan. Bin Hammam dicekal dari FIFA karena tuduhan penyuapan.
Blatter terpilih kembali setelah meraih 186 dari 203 pemilik suara.
(Doni Wahyudi/Meylan Fredy Ismawan)











































