Setelah 17 Tahun, 'Raja' Blatter Akhirnya Turun Takhta

Setelah 17 Tahun, 'Raja' Blatter Akhirnya Turun Takhta

Mohammad Resha Pratama - Sepakbola
Rabu, 03 Jun 2015 11:52 WIB
Setelah 17 Tahun, Raja Blatter Akhirnya Turun Takhta
REUTERS/Ruben Sprich
Zurich - Tujuh belas tahun lamanya Sepp Blatter bertakhta di kursi "kerajaan" yang dipimpinnya, FIFA. Tapi setiap awal pasti selalu ada akhir, begitupun Blatter yang harus lengser keprabon dari posisinya tersebut.

Pengumuman mengejutkan dibuat Blatter semalam ketika dia menyatakan mundur dari kursi presiden FIFA yang sudah didudukinya selama 17 tahun. Padahal empat hari sebelumya, pria asal Swiss itu baru saja terpilih kembali untuk kelima kali beruntun sebagai presiden FIFA.

Sayang terpilihnya Blatter itu dipenuhi isu-isu negatif terkait skandal korupsi, pencucian uang, dan penyuapan yang terjadi sehari sebelum dirinya terpilih, ketika enam pejabat tinggi FIFA dicokok kepolisian Swiss.

Skandal itu kemudian dipuncaki dengan isu penyuapan 10 juta dollar AS yang menimpa tangan kanan Blatter, Jerome Valcke, sehubungan dengan terpilihnya Afrika Selatan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010.

Setelah menggantikan Joao Havelange pada 8 Juni 1998, Blatter turun takhta kurang dari seminggu jelang perayaan 17 tahun kepemimpinannya. Berikut data dan fakta terkait Blatter seperti dikutip Soccerway.

Awal Karier di FIFA

Bergabung dengan FIFA di tahun 1975, Blatter mengawali kariernya sebagai Direktur Teknik lalu naik jabatan menjadi Sekretaris Jenderal di era Joao Havelange

Era Blatter Dimulai

Setelah 17 tahun bekerja untuk Havelange, Blatter akhirnya meneruskan jabatan mentornya tersebut di tahun 1998 usai mengalahkan eks presiden UEFA, Lennar Johannson, dalam pemilihan presiden. Meski saat itu berstatus underdog, Blatter mendapat 111 suara berbanding 80 suara milik Johansson dan meraih kemenangannya ketika Johansson memutuskan mundur sebelum pemungutan suara putaran kedua.

Kritik dan Tuduhan Miring Mulai Bermunculan

Meski berhasil mementahkan dugaan penyuapan pada pemilihan 1998, Blatter tiga tahun setelahnya menjadi sorotan . Sebab sebuah investigasi FIFA menyatakan Blatter terlibat kasus yang berujung kolaps-nya salah satu partner sponsor FIFA. Blatter kemudian membantah dirinya terlibat di sana.

Terpilih kembali untuk kedua kalinya

Meski ada 11 komite eksekutif yang mengajukan tuntutan kriminal kepadanya, Blatter untuk kedua kalinya terpilih lagi sebagai presiden FIFA pada 2002. Penantangnya saat itu adalah Issa Hayatou asal Kamerun, yang kalah telak setelah Blatter mendapat 139 suara dari 195 voter.

Bagi-bagi Jatah Tuan Rumah Piala Dunia

Sebagai bagian dari kampanyenya saat pencalonan presiden, Blatter menjanjikan untuk membawa sepakbola ke seluruh penjuru dunia dan memberi kesempatan untuk negara dunia ketiga untuk menggelar Piala Dunia - janji yang akhirnya dia tepati. Setelah Piala Dunia 2002 Korea Selatan dan Jepang, lalu Afrika Selatan di 2010 - Piala Dunia pertama di negara Afrika. Lalu Blatter meneruskan janjinya tersebut ketika negara kecil seperti Qatar terpilih sebagai tuan rumah 2022.

Periode Ketiga Blatter

Blatter kembali terpilih sebagai presiden FIFA untuk ketiga kalinya pada 2007 tanpa adanya perlawanan dari kandidat lain. Meski banyak tuduhan miring kepadanya, figur Blatter malah semakin populer di mata publik sepakbola dunia. Namun, skandal besar muncul di periode ketiganya dan jadi awal citra Blatter menurun.

Pada tahun 2010 saat proses bidding untuk tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 memunculkan banyak kontroversi karena Blatter akhirnya memilih Rusia serta Qatar jadi tuan rumah. Tuduhan penyuapan, miss management keuangan, dan kecurangan saat pemilihan muncul, namun itu tak mampu menggoyang eksistensi Blatter.

Investigasi Michael Garcia

Melihat adanya kontroversi terkait terpilihnya Rusia dan Qatar sebagai tuan rumah, Komite Etik FIFA kemudian menginvestigasi dan menemukan adanya pelanggaran-pelangaran yang dilakukan, tapi hal itu dinilai tidak akan mempengaruhi keabsahan voting. Michael Garcia, salah satu anggota yang melakukan investigasi, menemukan adanya ketidakberesan dalam proses itu.

Tapi hasil investigasi itu tak pernah dipublikasian dan Garcia malah mundur dari posisinya tersebut menyusul protes dari Komite Etik. Publik sepakbola dunia sendiri masih ingin mendengar hasil investigasi Garcia secara lengkap.

Terpilih Keempat kalinya Secara Aklamasi

Meski Mohammed bin Hammam awalnya mengajukan diri sebagai penantang Blatter pada pemilihan presiden tahun 2011, pria asal Qatar itu malah mengundurkan diri menyusul tuduhan suap saat proses kampanye. Blatter terpilih secara aklamasi sebagai presiden FIFA untuk keempat kalinya.

Skandal Besar Mengguncang Kongres FIFA 2015

Tak sampai lima hari jelang bergulirnya kongres FIFA, skandal besar mengguncang pada tanggal 27 Mei ketika otoritas kepolisian Swiss menangkap 9 petinggi FIFA atas permintaan Departemen Kehakiman Amerika Serikat, menyusul adanya dugaan kasus korupsi dan penyuapan.

Blatter kemudian menyebut skandal tersebut tak akan mengganggu proses pemilihan presiden FIFA di mana dia ditantang oleh Pangeran Ali bin Al Hussein. Pada akhirnya Blatter untuk kelima kalinya menjadi presiden FIFA setelah menang cukup telak di putaran pertama, sebelum Pangeran Ali mundur di putaran kedua.

Mundur dari Presiden FIFA

Setelah terpilih jadi presiden FIFA kembali, Blatter berjanji untuk memperbaiki FIFA, namun empat hari setelahnya, tepatnya Selasa (2/6) malam WIB, Blatter malah mengundurkan diri. Ini tak lama setelah beberapa jam sebelumnya muncul kabar tuduhan suap terkait terpilihnya Afrika Selatan jadi tuan rumah Piala Dunia 2010.

(Mohammad Resha Pratama/Rifqi Ardita Widianto)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads