Argentina jadi salah satu unggulan juara di Copa America tahun ini. Namun sejauh ini kiprah Lionel Messi dkk. belum terlalu meyakinkan.
Meski lolos dari fase grup dengan status juara, namun pasukan Gerardo Martino tak mendapatkannya dengan mudah. Dua kemenangan yang diraih, dua-duanya dipetik dengan skor tipis 1-0. Sementara satu laga lainnya berakhir imbang 2-2.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Statistik yang dicatat whoscored menunjukkan bahwa Argentina punya catatan penguasaan bola mengesankan, salah satu yang tertinggi sejauh ini. Mereka rata-rata mencatatkan persentase penguasaan bola 70,1%, hanya kalah tipis dari Chile yang punya catatan 70,4%.
Mereka juga punya catatan akurasi umpan paling bagus. Persentase rata-ratanya adalah 87,5%, unggul dari Brasil di posisi dua dengan 86,3%. Masalahnya adalah penguasaan bola dan akurasi itu menjadi tak berarti, karena mereka kesulitan melakukan penetrasi saat berhadapan dengan lawan yang menumpuk pemain di area pertahanannya.
Dari penampilan dominan sejauh ini, Argentina sendiri mampu melepaskan rata-rata 16,7 tembakan per laga. 10,7 dilepaskan dari area kotak penalti, sementara enam lainnya dari luar. Dari total tembakan itu, hanya enam yang tepat sasaran atau mengarah ke gawang.
Jika dihitung, Argentina sejauh ini mencetak empat gol dari tiga laga. Tiga gol dari permainan terbuka sementara satu lainnya dari titik penalti. Artinya mereka rata-rata mencetak gol 1,33 per pertandingan. Dengan demikian, dari rata-rata enam tembakan yang mengarah ke gawang praktis hanya satu yang berbuah gol per laganya.
Soal kesulitan ini, gelandang Argentina Angel Di Maria menyebut timnya kehilangan sosok penyerang seperti Hernan Crespo atau Gabriel Batistuta yang andal di duel-duel udara. Dengan kata lain ketika kesulitan menembus pertahanan lawan dengan permainan kaki ke kaki, mereka bisa mencoba menyerang lewat bola-bola udara.
"Orang-orang dan jurnalis, mereka banyak berkomentar, tapi tidaklah mudah menghadapi 10 pemain bertahan. Melawan Jamaika, kami saat itu berada di paruh penyerangan dan mereka bertahan. Sulit mencari ruang," katanya seperti dilansir situs resmi Copa America.
"Ketika Crespo atau Bati jadi sosok sentral, Anda bisa mengirimkan bola atas untuk mereka. Kami pendek, jika kami tidak memainkan bola bawah, situasinya jadi sulit," imbuh pemain Manchester United itu.
Lantas apakah tantangan yang sama akan menanti saat menghadapi Kolombia? Tentu ada peluang demikian. Melihat Argentina kesulitan di fase grup, bisa jadi Kolombia beradaptasi dan menerapkan gaya bertahan. Namun jika dilihat dari kacamata ideal, dengan asumsi Kolombia tampil sesuai gaya aslinya yang cukup terbuka, ada tantangan lain yang perlu dihadapi Argentina.
Kolombia sendiri sejauh ini tercatat punya persentase penguasaan bola kelima terbesar di Copa America 2015 dengan 52,2%. Akurasi umpannya 77,2%. Mereka rata-rata melepaskan 15,3 tembakan per laga, namun yang akurat rata-rata hanya dua per partai.
Sebagaimana Argentina, mereka juga punya masalah yang sama yakni kesulitan mencetak gol. Malah jauh lebih buruk karena sejauh ini tim asuhan Jose Pekerman baru mencetak satu gol dari tiga pertandingan.
Yang menonjol dari permainan Kolombia adalah catatan tekel dan intersepsinya yang baik. Rata-rata mereka mencatatkan 23,7 tekel sukses, yang menempatkan mereka di urutan tiga terbaik. Sementara dalam hal intersepsi, mereka punya rata-rata 14,3 intersepsi dan merupakan yang terbaik dalam aspek ini.
Catatan itu sedikit banyak menunjukkan bahwa Kolombia bertahan dengan aktif ketimbang bermain menunggu. Faktanya, dua pemain dengan jumlah rata-rata tekel terbanyak adalah Carlos Sanchez (5) dan Juan Cuadrado (4,3) yang diposisikan sebagai gelandang.
Sanchez juga jadi pemain dengan rata-rata jumlah intersepsi tinggi dengan 2,7 intersepsi per laga. Artinya Pekerman berupaya menghentikan serangan lawan dengan cepat, untuk kemudian memanfaatkan celah yang ditinggalkan lawan.
Jika menerapkan gaya bermain seperti selama ini saat melawan Argentina, tentu ada keuntungan dan kekurangan untuk Kolombia. Jika gagal membaca dan menghentikan serangan Argentina dengan cepat, pertahanan mereka lebih mudah diekspos. Namun jika berhasil menghentikan serangan dengan cepat, Kolombia punya kans untuk menusuk ruang yang ditinggalkan para pemain Argentina.
Argentina sendiri antusias menatap duel melawan Kolombia. Tak dipungkiri bakal sulit, tapi mereka menilai gaya main James Rodriguez dkk. yang terbuka bakal memberikan keuntungan untuk mereka.
"Kolombia adalah rival yang berat tapi bermain lebih terbuka daripada tim-tim yang telah kami hadapi sejauh ini. Di atas kertas, lawan-lawan seperti ini adalah lawan-lawan yang menguntungkan kami," kata Rojo dikutip Reuters.
Patut dinantikan bagaimana jalannya pertandingan Argentina-Kolombia nanti. Apakah Argentina berhasil memaksimalkan kemampuan penguasaan bola mereka? Atau justru Kolombia yang mampu mencuri kesempatan?
(raw/a2s)











































