Kejadian tak mengenakkan untuk Tevez itu ada saat Argentina, yang di Copa America 2011 berstatus sebagai tuan rumah, menghadapi Uruguay di perempatfinal.
Setelah bertarung selama 90 menit, skor masih 1-1 dan laga harus berlanjut ke adu penalti. Dari lima eksekutor 'Tim Tango', hanya Tevez yang gagal setelah tembakannya dibendung Fernando Muslera. Sementara itu seluruh eksekutor Uruguay sukses dan Argentina pun tersingkir usai kalah 4-5.
Alhasil Argentina gagal memberi pesta untuk para pendukungnya yang sudah lama menunggu hadirnya gelar juara, setelah terakhir kali jadi juara Copa America tahun 1993 silam. Tevez jadi kambing hitam dan absen cukup lama dari tim nasional, sebelum dipanggil lagi di era kepelatihan Gerardo Martino.
Tevez dan Argentina pun kembali menghadapi situasi serupa, masih di turnamen yang sama dan juga di fase perempatfinal, Sabtu (27/6) pagi WIB. Kali ini lawannya adalah Kolombia dan laga kembali dilanjutkan ke babak tos-tosan usai skor 0-0 selama 90 menit.
Baik Argentina dan Kolombia sama-sama punya satu eksekutor gagal dari lima penendang pertama. Lalu berlanjut ke babak sudden death, di mana Tevez maju sebagai eksekutor ketujuh dan kali ini bola hasil sepakannya sukses menaklukkan David Ospina.
Sampai kemudian penyelamatan Sergio Romero atas tembakan Jeison Murillo membuat Argentina akhirnya menang 5-4 dan berhak atas satu tiket ke semifinal, untuk menunggu pemenang partai Brasil kontra Paraguay.
Setelah empat tahun lalu jadi pesakitan, kini Tevez pun berhasil jadi pahlawan dan membayar tuntas kegagalannya. Martino pun tak sungkan memberi pujian kepada pesepakbola 31 tahun tersebut.
"Sepakbola kadang seperti itu. Saya tidak mau menempatkan Tevez menjadi lima eksekutor pertama karena dia pernah gagal di Copa America sebelumnya," ujar Martino seperti dikutip Soccerway.
"Kami coba mencegahnya agar tidak menjadi eksekutor, tapi dia mengambilnya dan berhasil. Itulah sepakbola, dan headline besok adalah soal penebusan," sambungnya.
(mrp/mrp)











































