Pirlo, yang kontraknya bersama Juventus berakhir tahun 2016, memilih untuk mengakhirinya setahun lebih cepat dan memutuskan untuk menerima pinangan klub MLS, New York City FC.
Ini artinya Pirlo akan bergabung dengan dua bintang gaek asal Eropa lainnya, David Villa dan Frank Lampard, yang lebih dulu bermain untuk "saudara tiri" Manchester City itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Pirlo sebenarnya dinilai masih kompetitif untuk bermain di liga seketat Serie A, karena toh penampilan Pirlo dalam beberapa musim terakhir masih stabil.
Maka wajar, jika ada anggapan bahwa kepergian Pirlo karena iming-iming gaji besar dari New York City. Guardiann melansir bahwa Pirlo digaji sekitar 6 juta dollar AS per tahun dengan kontrak 18 bulan, sama dengan Villa dan Lampard.
Walaupun termasuk tim anak bawang di MLS, New York City memang punya sokongan dana besar, dan sampai pertengahan musim MLS jadi tim dengan rataan penonton di stadion terbanyak ketiga, setelah Seattle Sounders dan Orlando City.
Ketika ditanya perihal isu tersebut, Pirlo membantah keras dan menyatakan tujuannya datang ke MLS adalah untuk menjajal kompetisi baru serta membawa New York City berprestasi.
Apalagi Pirlo datang di saat New York City tengah terpuruk di posisi ke-19 dari 20 tim peserta MLS. Tim asuhan Jason Kreis itu hanya menang lima kali dari 20 pertandingan.
"Uang tidak pernah jadi masalah untuk saya, karena yang utama adalah sepakbola. Ketika Anda bermain di level tertinggi, wajar jika mendapat gaji besar. Tapi, uang dan sepakbola adalah dua hal berbeda," tutur Pirlo dalam acara perkenalannya sebagai pemain New York City, Kamis (23/7) waktu setempat.
"Saya tidak pernah bermain untuk uang. Saya bermain karena saya cinta sepakbola. Orang-orang bisa berkata semau mereka," lanjutnya seperti dikutip Football Italia.
(mrp/fem)











































