Rinus Michels di Mata Murid Emas (1)
Cruijff: Ilmu Saya Banyak dari Michels
Kamis, 03 Mar 2005 23:23 WIB
Den Haag - Pemain legendaris dan pelatih besar Johan Cruijff menyatakan sangat kehilangan atas meninggalnya Michels. Dia mengaku banyak menimba ilmu dari Bapak Sepakbola Total itu.Dalam pernyataan di websites pribadinya, Kamis (3/3/2005), Cruijff mengungkapkan bahwa sebagai pemain dan pelatih dirinya tidak pernah begitu banyak menerima ilmu dari seseorang melebihi dari Rinus Michels, sang guru besarnya. Cruijff, pemain terbaik Belanda sepanjang zaman, memang diasuh Michels cukup lama, baik selama dia di Ajax, Barcelona, maupun timnas Oranje."Di mata orang luar, Rinus Michels dan saya sering dipandang sebagai guru dan murid. Namun setelah saya 30 tahun kemudian menukar Ajax dengan Barcelona, ternyata muncul juga hubungan personal yang sangat kuat," tulis Cruijff, yang kini mukim di Barcelona nan hangat dan hanya untuk agenda penting saja dia mau mengunjungi Belanda yang dingin.Ungkapan Cruijff ini agaknya secara implisit menyinggung hubungan Michels dengan dirinya sebagai guru-murid, pelatih-pemain, yang tidak selalu mulus. Cruijff tercatat sering berselisih pendapat dan memberontak terhadap Michels, bahkan hingga dirinya naik status sebagai pelatih. Pernah pada 22 Desember 1985, Cruijff adu kekuatan dengan Rinus Michels dan Leo Beenhakker sekaligus. Cruijff, saat itu pelatih Ajax, menahan Marco van Basten, Vanenburg, De Wit dan Rijkaard, untuk tidak memperkuat timnas Oranje melawan Italia, yang ditukangi Michels dan Beenhakker sebagai asisten. Sebagai gantinya Cruijff mengirim Silooy dan Koeman. Michels marah besar. Dua nama itu didepak Michels dan diusir kembali ke Amsterdam. Michels mengatakan tak butuh pemain Ajax, sebab Ajax telah membiarkan Oranje dalam kesulitan. Cruijff enteng menjawab, bahwa bukankah semula timnas hanya butuh 2 pemain Ajax, bukan 6 seperti kemudian dikehendaki Michels?Penuh riak dan gelombang, begitulah hubungan Michels-Cruijff. Bahkan boleh dikata guru-murid, yang sama-sama melegenda dan berpengaruh, itu mirip dua matahari kembar dalam persepakbolaan Belanda, terutama di kuil Ajax Amsterdam dan timnas Oranje. Namun, pada akhirnya keduanya selalu bertemu pada kepentingan sepakbola total dan penghancuran sepakbola bertahan ala catenaccio (grendel), yang oleh keduanya dijuluki dengan terminologi anti-voetbal (anti sepakbola). Menurut Cruijff, dalam soal sepakbola dirinya selalu mempunyai kekaguman luarbiasa atas kepemimpinan Michels. "Dia seorang yang selalu jelas dalam hal apa yang dia inginkan dan apa yang dia harapkan dari pemain. Dan untuk mencapai itu kadang dia bisa sangat (keras) berlebihan. Jika terlihat ada tanda-tanda menunjukkan hasil, maka kekerasannya itu akan berkurang dan dia akan memberi semakin banyak kebebasan," papar Cruijff.Cruijff, yang hampir mengantarkan Belanda menjadi juara Piala Dunia 1974 (dikalahkan di final oleh Franz Beckenbauer dkk dari Jerman Barat) menambahkan bahwa gaya Michels membimbing perkembangan pemain, hingga kini masih dirasakannya sebagai sangat unik dan luar biasa. "Saya akan selalu merasa kehilangan dia," demikian Cruijff, yang kritik dan komentarnya di Belanda tak ada yang berani membantah, bahkan oleh kekuatan wartawan olahraga sekalipun. (es/)











































