Kaleidoskop Sepakbola 2015 (November)

Tragedi Paris, Muramnya Chelsea, dan Gemilangnya Leicester

Femi Diah - Sepakbola
Kamis, 31 Des 2015 18:46 WIB
Michael Regan/Getty Images
Jakarta -

Tragedi berdarah di Paris menorehkan duka pada sepakbola dunia di bulan November. Di Liga Inggris, Chelsea bersama Jose Mourinho menjalani periode yang suram.

Tanggal 13 November menjadi malam yang kelam untuk dunia. Prancis berduka setelah ada pengeboman di sejumlah wilayah di Paris. Salah satu teror terjadi di area Stade de France saat bergulirnya laga persahabatan antara Prancis dengan Jerman.

Serangan itu meningkatkan kekhawatiran terhadap gelaran Piala Eropa yang berlangsung 10 Juni sampai 10 Juli 2016. Namun Prancis, melalui Presiden Organising Committee Piala Eropa 2016, Jacques Lambert, memastikan negaranya akan tetap melangsungkan ajang tersebut.

Ketakutan juga melanda beberapa pemain untuk kembali ke Prancis. Salah satunya, David Luiz. Beberapa pertandingan juga dibatalkan setelah teror itu, antara lain Belgia menghadapi Spanyol dan Jerman versus Belanda.

Bulan ini juga mencatat perbedaan laju Chelsea dengan Leicester City di Premier League. Chelsea terus memetik kekalahan demi kekalahan hingga muncul spekulasi ketidakharmonisan dalam ruang ganti The Blues.

Didier Drogba menilai Chelsea sudah kehilangan figur pemimpin. Para pemain juga mulai berulah yang menunjukkan adanya ketidakharmonisan di dalam ruang ganti. Diego Costa melempar Mourinho dengan rompi di ujung pertandingan Tottenham Hotspur pada 29 November.

Mourinho juga tak lepas dari dramanya sendiri. Dia dihukum FA dengan sanksi pencekalan dari stadion dalam satu pertandingan serta denda sebesar 40.000 poundsterling (sekitar Rp 842 juta) karena mengkonfrontasi wasit di laga melawan West Ham United di laga yang bergulir 24 Oktober.

DailyMail bahkan merangkum ada 20 kemuraman Cheslea sejak kompetisi musim ini bergulir. Sebagai gambaran Musim ini juga menjadi musim terburuk Chelsea dalam hal pertahanan karena sudah 22 gol bersarang di gawang mereka.

Di atas penderitaan Chelsea, Leicester justru tengah berpesta. Penyerang Leicester, Jamie Vardy, sukses membukukan namanya dalam sejarah dengan menyamakan koleksi golnya setara dengan Ruud van Nistelrooy di Premier League.

Satu gol yang dibuat ke gawang Newcastle United pada 21 November itu membuat pemain yang pernah bekerja sebagai tenaga paruh waktu di pabrik pembuatan kaki palsu tersebut menyamai rekor Ruud van Nistelrooy di Premier League. Dia mencetak gol di sepuluh laga beruntun sama seperti yang dibuat Van Nistelrooy pada musim 2002/2003.

Di akhir bulan, pekan ke-13 Premier League, Leicester pun menambah manis dongeng mereka dengan mendiami puncak klasemen.

Dongeng lain juga tertulis untuk tim nasional Belgia. Untuk pertama kalinya, Belgia menempati urutan pertama dunia.

Di kancah Eropa, teka-teki siapa saja tim nasional yang akan berlaga di Piala Eropa 2016 di Prancis terjawab sudah setelah babak kualifikasi dan playoff tuntas. Ajang itu dipastikan tak akan diikuti Belanda. Sebaliknya, malah akan jadi ajang pertunjukan beberapa negara "medioker" bahkan "gurem" seperti Hongaria, Wales, Islandia, dan Albania.

Panggung sepakbola Indoensia juga masih suram. PSSI masih dihukum FIFA. Di awal November delegasi FIFA dan AFC menyambangi kantor PSSI di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada 2 November.

Dalam kesempatan itu, PSSI 'curhat' kepada delegasi FIFA dan AFC agar pemerintah segera mencabut sanksi kepada PSSI. Dalam pertemuan tersebut, FIFA dan AFC diwakili oleh diwakili oleh Kohzo Tashima dan H.R.H Prince Abdullah, sedangkan perwakilan AFC yang turut hadir adalah Mariano Araneta, James Johnson, Sanjeevan, dan John Windsor.

Sementara PSSI diwakili oleh ketuanya, La Nyalla Mattaliti, wakil ketua Hinca Pandjaitan, sekjen Azwan Karim, dan beberapa anggota Exco, seperti Djamal Aziz dan Erwin D Budiawan, dan dewan kehormatan, Agum Gumelar.

"Secepatnya, agar pemerintah mencabut sanksi dari pembekuan PSSI. Tapi satu hal statuta FIFA harus ditegakkan," kata Agum Gumelar kala itu.

Perwakilan FIFA dan AFC kemudian bertandang ke Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat untuk menemui Presiden Joko Widodo yang didampingi oleh Menpora Imam Nahrawi. Di dalam pertemuan itu Istana hanya memperbolehkan Menpora yang hadir, tanpa PSSI.

Di awal November, nasib kurang menyenangkan dialami tim nasional Pelajar Indonesia yang menjadi juara di Pilipinas Cup di Manila, Filipina. Setelah merebut trofi, mereka malah kesulitan kembali ke tanah air.

Timnas Pelajar Indonesia yang tampil di kelompok umur U-13 tampil sebagai juara. Mereka menjadi juara setelah mengalahkan Pagasa FC 2-0 di final, Jumat (30/10/2015) lalu.

Timnas Pelajar Indonesia yangberangkat ke Filipina dengan diurus oleh Event Organizer (EO) Kampiun Indonesia tak bisa segera pulang karena tiket hangus. Mereka telat sampai di bandara. EO yang mengurus lepas tangan. Dalam prosesnya mereka bisa kembali ke tanah air dengan biaya dari Menpora.

Kabar duka juga datang dari Persija. Saat merayakan ulang tahun ke-87 dan saat akan menghadapi Arema Cronus di Stadion Kanjuruhan, Malang pada 28 November, pelatih Macan Kemayoran, Kusheri Hafsari, meninggal dunia akibat serangan jantung.

Mendiang Kusheri sempat memberikan kata sambutan dalam acara syukuran ulang tahun Persija di Hotel Ijen Suites, Malang. Dia kemudian mengalami sesak napas dan dibawa ke RS Mardi Maluyo. Tetapi nyawa pria 56 tahun itu tak dapat diselamatkan.

(fem/din)