Hampir saja Chile kehilangan titel juara Copa America Centenario di menit ke-100. Berawal dari serangan Argentina di sisi kiri yang berlanjut crossing ke kotak penalti hingga disambut tandukan Sergio Aguero. Bola melayang ke gawang Chile, tapi Bravo mampu menepisnya.
Pertandingan berakhir 0-0 hingga perpanjangan waktu dan memaksa adu penalti. Di akhir laga, Chile memastikan gelar juara dengan skor 4-2. meski gagal mengantisipasi tembakan Javier Mascherano dan menahan tendangan Aguero, Bravo berhasil menahan bola dari Lucas Biglia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sang pelatih Juan Antonio Pizzi bersikukuh tetap menurunkan Bravo di babak knock out, kendati cibiran mengikuti anak asuhnya.
"Claudio bukan hanya kiper pilihan pertama, dia juga kapten dari sebuah tim dalam generasi pemain yang memberikan kegembiraan kepada negara," kata Pizzi seperti dikutip Soccerway.
"Saya respek kepada dia sebagai seorang pemain, juga respek kepada profesionalitasnya," tutur dia.
Padahal, penampilan Bravo kurang meyakinkan di laga-laga awal. Gawang Chile kebobolan dua gol dari Argentina dan hasilnyapun Chile kalah 1-2. Di laga kedua, masih di fase grup, Chile juga kebobolan satu gol dari Bolivia meski di akhir laga menang 2-1. Malah saat harus menghadapi Panama, gawang Bravo kebobolan dua gol meski mereka menang 4-2.
Tapi ketika memasuki babak knock out, Bravo menunjukkan kualitasnya. Dia berhasil menjaga gawang Chile tak kebobolan satu gol pun. Chile mengakhiri laga dengan Meksiko dengan skor 7-0 di babak perempatfinal. Kemudian menang atas Kolombia 2-0.
(fem/nds)











































