Pelaku Kekerasan di Liga Amatir Portugal Dihukum Berat, Bagaimana di Indonesia?

Pelaku Kekerasan di Liga Amatir Portugal Dihukum Berat, Bagaimana di Indonesia?

Randy Prasatya - Sepakbola
Kamis, 04 Mei 2017 10:43 WIB
Pelaku Kekerasan di Liga Amatir Portugal Dihukum Berat, Bagaimana di Indonesia?
Foto: ist
Jakarta - Pemain yang melakukan kekerasaan dalam sebuah laga di Liga Amatir Portugal mendapatkan hukuman berat. Lantas, bagaimana di sepakbola Indonesia?

Pada awal April lalu, kekerasan terjadi di Liga Amatir Portugal. Pemain Canelas 2010, Marco Goncalves, menendang wajah wasit dengan dengkulnya. Hal itu terjadi saat laga melawan Rio Tinto yang berlangusng bulan lalu baru berjalan dua menit.

Kejadian itu dipicu oleh kartu merah yang didapat oleh Goncalves. Dia memukul pemain belakang lawan, hingga diusir wasit dari lapangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Atas tindakan Goncalves itu, wasit Jose Rodrigues terkapar dengan wajah bersimbah darah, yang disebabkan patah tulang hidung. Sementara itu, Goncalves langsung digelandang ke kantor polisi.

Menurut The Sun, pemain nomor punggung 10 di Canales itu langsung disanksi dikeluarkan oleh klub.

"Marco Goncalves tidak akan pernah memakai jersey Canelas FC 2010 lagi. Kami ingin menunjukkan dukungan sepenuhnya kepada wasit Jose Rodrigues dan keluarganya dan berharap pulih secepatnya," kata Presiden klub, Bruno Canastro.

Selain itu, otoritas dari liga regional Porto, sudah memberikan sanksi empat tahun karena menyerang wasit, dua bulan karena dakwaan penghinaan dan tindakan mengancam, dan tiga bulan karena menyerang pemain lawan.

Dengan usia Goncalves yang sudah menginjak 34 tahun, total hukuman untuknya dengan total nyaris 5 tahun itu seakan menjadi hukuman seumur hidup.

Nah, kejadian kekerasan di lapangan saat ini juga menghantui sepakbola Indonesia, yang mengusung semangat baru. Liga 1 Indonesia belum genap satu bulan, dua pemain timnas Indonesia waktu di AFF 2016 melakukan pemukulan terhadap pemain lawan.

Kejadian pertama menimpa pemain PSM Makassar, Ferdinand Sinaga, yang memukul pemain Persela Lamongan, Ivan Carlos. Dia pun mendapat hukuman larangan tanding selama empat laga dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.

Pada Sabtu (29/4) lalu, kekerasan kembali terjadi. Abduh Lestaluhu selaku pemain PS TNI melepaskan pukulan ke wajah Thiago Furtuoso, yang berseragam Bhayangkara FC.

Sampai saat ini Komdis PSSI belum mengeluarkan putusan terkait pemukulan yang dilakukan Abduh. Sang pemain pun sejauh ini mengaku pasrah dengan hukuman yang akan dijatuhkan.

Jika menengok ke belakang, Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, sebelumnya pernah berujar bahwa pemain yang memukul wasit di turnamen Piala Presiden akan dilarang bermain seumur hidup.

"Kami akan berikan sanksi larangan seumur hidup bila ada pemain yang memukul wasit di Piala Presiden ini," kata pria yang juga menjabat sebagai Pangkostrrad TNI ketika itu.

Tapi, itu cuma hukuman kekerasan kepada wasit dan juga di Piala Presiden, yang cuma turnamen tak resmi. Patut ditunggu hukuman yang akan dijatuhkan komdis PSSI pada turnamen resmi.


(cas/nds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads