Dari International Champions Cup ke Kuliner Peranakan di Katong

International Champions Cup

Dari International Champions Cup ke Kuliner Peranakan di Katong

Femi Diah - Sepakbola
Selasa, 01 Agu 2017 09:58 WIB
Dari International Champions Cup ke Kuliner Peranakan di Katong
Foto: detikcom
Singapura - International Champions Cup (ICC) dihelat berbarengan dengan Singapore Food Festival. Mereka menawarkan suguhan jajanan lawas serba 50 sen dan pengalaman menyusuri kuliner di Katong.

ICC Singapura sudah ditutup pada Sabtu (299/7/2017). Inter Milan menjadi tim tersukses dengan dua kali kemenangan di National Stadium. Nerazzurri menang atas Bayern Munich kemudian berhasil mengalahkan Chelsea.

Dari International Champions Cup ke Kuliner Peranakan di KatongFoto: detikcom

Setelah menikmati pertandingan-pertandingan atau sembari menunggu jeda satu pertandingan ke pertandingan lainnya dalam turnamen segitiga itu, pelancong bisa menjajal sensasi makanan peranakan di China Town. Istimewanya jajanan ditawarkan dengan harga serba 50 sen atau setara dengan Rp 5 ribu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bersama Singapore Tourism Board, detikSport menjajal untuk napak tilas peranakan Joo Chiat Road. Ini bukan di area China Town, tapi di Kanting, dekat dengan Kampung Glam yang didominasi warga muslim Singapura.

Dari International Champions Cup ke Kuliner Peranakan di KatongFoto: detikcom

Sepanjang Joo Chiat, rombingan disuguhi kuliner, baik makan besar atau pun jajanan, juga penampakan gedung-gedung kuno yang masih terawat sangat baik.

Untuk urusan makanan dan jajanan, menu khas peranakan tak terlalu berbeda dengan yang dijumpai di Jakarta. Rombongan mencicipi ikan asam manis, ayam pongteh, dan chap chye di Artiste Residency. Tempat makan ini gampang ditemukan dengan sebuah patung berwarna emas, salah satu Sultan Pahang, Sultan Abubakar.


Citarasa ikan asam pedas sama dengan gaya masakan di Jakarta. Adapun untuk ayam pongteh mirip dengan ayam semur. Tapi, untuk chap cye justru berbeda dengan cap cay yang kita kenal. Tiga menu tersebut dinikmati dengan nasi dan sambal di atas tok panjang, sebuah meja panjang yang bisa digunakan untuk makan bersama-sama 24 orang.

Usai makan besar, kami diajak untuk berburu jajan pasar. Ondeh-ondeh, kue lapis, dan kue ku gampang ditemukan di kawasan ini. Ondeh-ondeh itu mirip klepon, hanya disuguhkan dengan warna-warni.

Dari International Champions Cup ke Kuliner Peranakan di KatongFoto: detikcom

"Ondeh-ondeh ini biasa dinikmati saat kumpul keluarga. Dalam tradisinya dibuat warna-warni karena dipercaya bisa menumbuhkan kegembiraan," kata Helen Lim, pewaris Ng Eng Teng, pendiri restoran yang kini disebut Artiste Residency itu.

Setelah mencicipi makanan dan jajanan itu, kami berkeliling jalanan Joo Chiat Road. Bangunan kuno dengan dua atau tiga lantai mendominasi jalanan yang kami susuri.

Dari International Champions Cup ke Kuliner Peranakan di KatongFoto: detikcom

Perjalanan diakhiri di Rumah Kim Choo. Dari depan, rumah ini terlihat seperti toko souvenir. Tidak besar, malah boleh dibilang sempit untuk menampung rombongan dengan jumlah 25 orang. Di lantai dua, rumah ini menyimpan benda khas peranakan.

Pesta bola selesai. Perjalanan untuk mencicipi kuliner peranakan juga sudah sampai finis. Saatnya kembali ke Tanah Air. (fem/raw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads