Fantastisnya Perjuangan The Reds

Fantastisnya Perjuangan The Reds

- Sepakbola
Kamis, 26 Mei 2005 05:55 WIB
Jakarta - Diperlukan mental yang sangat kuat bagi sebuah tim yang tertinggal tiga gol di babak pertama sebuah partai final kejuaraan besar. Liverpool memiliki itu.Dalam duel final Liga Champions di Istanbul, Kamis (26/5/2005) dinihari WIB, jala Liverpool sudah dirobek AC Milan di menit pertama lewat tendangan voli Paolo Maldini. Jala itu koyak dua kali lagi oleh tendangan Hernan Crespo di menit 38 dan 44.Namun di babak kedua keajaiban seperti terjadi di kubu Liverpool. Hanya dalam selang waktu enam menit Steven Gerrard dkk berhasil memberondong gawang Milan sebanyak yang mereka lesakkan ke gawang Jerzy Dudek.Gerrard memulainya di menit 54, lalu berturut-turut Vladimir Smicer di menit 56 dan Xabi Alonso persis di satu jam pertandingan. Keajaiban ini berlanjut di drama adu penalti, ketika pasukan The Reds menang 3-2.Dalam sejarah final Liga Champions, baru kali ini ada tim yang mampu membalikkan keadaan dan tampil sebagai juara setelah tertinggal tiga gol di babak pertama. Dan Liverpool membuat rekor itu di gelaran ke-50 kompetisi antarjuara Eropa itu.Apa yang membuat para pemain Liverpool tidak jatuh mentalnya? Di situlah pelatih Rafa Benitez memainkan perannya. Selain masalah teknis, ia dianggap mampu menjadi seorang psikolog ulung."Saya tidak yakin ada orang yang pernah melihat pertandingan seperti itu. Saat turun minum manajer terus mencoba agar kami tetap mengangkat kepala," cerita Jamie Carragher, salah satu pemain terbaik Liverpool musim ini, yang di final tampil luar biasa di lini belakang.Penuturan Carragher dibenarkan Gerrard, sang kapten. "Rafa terus menyemangati kami agar dagu kami tetap tegak, terus mencoba, dan berusaha mencetak gol di awal babak kedua," katanya.Benitez sendiri memuji anak-anak buahnya yang tidak kenal menyerah. "Mereka terus berkata 'go..go..go'," tukas pelatih Spanyol yang musim lalu membawa Valencia menjuarai Piala UEFA itu."Kebobolan di menit pertama saja sudahlah menyusahkan. Lalu kami juga kehilangan Harry Kewell (yang cedera). Jadi, kami harus mengubah sesuatu. Itu sungguh sulit, tapi para pemain mempercayainya dan menang. Steven adalah sosok kunci. Dia punya mentalitas yang kami inginkan."Sukses Liverpool meraih tropi Eropa kelimanya lahir bertepatan dengan 20 tahun peringatan tragedi Heysel, ketika 39 fans tewas dalam laga final Liga Champions 1985 antara klub Inggris itu melawan Juventus. Gara-gara musibah itu sepakbola Inggris dicekal dari arena internasional.Dalam sejarah final Liga Champions, skor 3-3 di babak reguler antara Liverpool vs Milan adalah yang terbesar pertama sejak 1963. Total skor terbesar sebelumnya adalah Real Madrid vs Eintracht Frankfurt (7-3) di tahun 1960 dan Benfica vs Real Madrid (5-3) di tahun 1962. (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads