Roger Lemerre "Guru" Tunisia

Jelang Piala Konfederasi

Roger Lemerre "Guru" Tunisia

- Sepakbola
Rabu, 15 Jun 2005 16:44 WIB
Jakarta - Empat tahun lalu Roger Lemerre membawa Prancis tampil sebagai juara Piala Konfederasi. Tahun ini ia kembali ke turnamen ini tapi sebagai "guru" Tunisia.Ya, Lemerre kini bertugas menukangi negara Afrika itu, tepatnya sejak Agustus 2002, tak lama setelah ia gagal total memimpin Les Bleus di Piala Dunia di Korea-Jepang, di mana Zinedine Zidane dkk selaku juara bertahan tersingkir di putaran pertama.Jangankan di level dunia, di kawasan Afrika pun Tunisia tidak punya reputasi besar. Di benua hitam itu orang umumnya lebih memandang Nigeria, Kamerun, Afrika Selatan, Maroko, sampai Mesir.Tunisia baru tiga kali lolos ke putaran final Piala Dunia, yakni di tahun 1978, 1998, dan 2002. Namun prestasi internasional pertama mereka baru satu, yaitu Piala Afrika 2004, yang terwujud berkat polesan tangan Lemerre.Lemerre, yang juga mengantarkan Prancis menjuarai Euro 2000, dipuji publik Tunisia sebagai seseorang yang telah memperkenalkan konsep baru buat persepakbolaan negara tersebut: seni meraih kemenangan.Meski demikian, pria yang pada hari Sabtu depan genap berusia 64 tahun itu tidak lantas jumawa. Bagaimanapun ia menyadari timnya tetaplah underdog di Piala Konfederasi kali ini, terutama jika dibandingkan dengan nama-nama besar seperti Argentina, Brasil, dan tuan rumah Jerman.Ia datang ke Jerman dengan misi, "Kami sangat menghormati rival-rival kami, tapi saya berharap setelah turnamen ini lawan-lawan kami juga menaruh respek pada kami."Menjelang pertandingan pembukaan antara timnya melawan juara dunia dua kali Argentina di Frankfurt, Rabu (15/6/2005) malam WIB, Lemerre juga tidak berani sesumbar. Ia hanya bertekad memimpin anak-anak buahnya bermain sebaik mungkin."Melawan tim-tim seperti Argentina, Brasil, dan Jerman sangatlah berat. Seperti semua orang, tentu saja saya lebih senang jadi pemenang, bukannya pecundang. Namun terkadang dengan kekalahan anda bisa menjadi lebih kuat," ujarnya.Lemerre juga menjadikan Piala Konfederasi sebagai ajang pemantapan timnya yang tengah berjuang di babak kualifikasi Piala Dunia 2006. Saat ini di Grup 5 Tunisia terpaut satu angka dari pimpinan klasemen sementara, Maroko."Saya melihat diri saya tidak sebagai pekerja mukjizat, melainkan seorang guru. Jika pekerjaan kami berjalan dengan mulus, itu semua karena seluruh pemain ingin melakukan hal demikian," demikian ia menganalogikan prinsipnya sebagai pelatih Tunisia.Lemerre bukanlah tipikal pelatih yang suka ambil pusing dengan citra diri yang dimunculkan media massa. Sewaktu menangani Prancis, ia kurang disukai wartawan karena sikapnya terlalu kaku dan dinilai kurang memperhatikan masalah kedisiplinan. Pernah muncul anekdot bahwa Lemerre lebih memilih berenang bersama ikan hiu ketimbang terlibat obrolan dengan wartawan."Apa yang dicitrakan publik tidaklah menarik perhatian saya. Yang penting adalah citra yang mesti saya bangun untuk tim saya. Soal kedisiplinan, saya lebih suka berbicara tentang sikap saling menghormati antara saya dengan pemain.""Saya manajer Tunisia, bukan alat media massa. Sebagai guru saya tidak ingin siapapun mengganggu anak-anak di dalam kelas. Kalau mereka tetap melakukannya, mungkin saya akan berganti kelas. Tapi saya juga suka minum wiski bersama teman-teman, dan bahkan sesekali dengan seorang jurnalis," tuturnya. (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads