Jelang PPD 2006 Eropa
Prancis Tak Punya Pilihan
Jumat, 07 Okt 2005 09:01 WIB
Jakarta - Hanya ada satu jalan agar Prancis otomatis lolos ke putaran final Piala Dunia 2006, yakni menang atas Swiss, Minggu (9/10/2005). Jika gagal, mimpi buruk sudah menanti.Berada di peringkat kedua grup 4 zona Eropa, posisi Prancis masih sangat rawan. Meski poinnya sama dengan pimpinan klasemen Swiss, namun tim asuhan Raymond Domenech kalah head to head dan selisih gol. Dengan hanya menyisakan dua pertandingan, cuma inilah kesempatan untuk merebut puncak klasemen.Jika Prancis kalah dan di pertandingan terakhir Swiss imbang dengan Irlandia, atau Prancis bermain imbang dan Swiss menang atas Irlandia, maka Swiss akan lolos sebagai juara grup. Satu-satunya kesempatan yang tersisa bagi Prancis adalah memainkan pertandingan playoff. Jika ini terjadi, kegagalan tahun 1994 kembali membayang.Domenenech sendiri mengaku bahwa saat ini timnya tidak memiliki pilihan lain. Kemenangan harus diraih meski bermain di markas lawan dan tanpa beberapa pemain pilarnya."Kami pergi ke Swiss untuk menang dan lolos. Masalah cedera pemain tidak membantu kami, tetapi itu merupakan bagian dari sepakbola internasional. Kami yakin memiliki kualitas yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaan kami," ujarnya.Kali ini Prancis dibantu dengan kembalinya Zinedine Zidane yang terbukti mampu mengangkat moral pemain. Lini tengah Les Blues juga semakin solid karena diperkuat Patrick Vieira yang kian gemilan sejak pindah dari Arsenal ke Juventus dan Claude Makelele yang menjadi pilar Chelsea.Namun demikian Swiss bukan lawan gampang. Salah satu senjata utamanya adalah striker Alexander Frei yang saat ini menjadi topskor Swiss dengan 22 gol dari 38 pertandingan."Jika Prancis tidak lolos dengan materi pemain seperti Zidane, Vieira dan Makelele, itu sangat memalukan. Tetapi mereka bukan tidak terkalahkan, dan kami memiliki peluang untuk melakukannya. Kami memang tim muda, tetapi kami banyak berkembang dan memiliki kepercayaan diri," ujar Frei.Foto: Zinedine Zidane jadi tumpuan Prancis (Jacques Demarthon/AFP). (lom/)











































