Berkah Tangan Emas Hiddink

Berkah Tangan Emas Hiddink

- Sepakbola
Kamis, 17 Nov 2005 01:19 WIB
Berkah Tangan Emas Hiddink
Jakarta - Keberhasilan Australia lolos ke Piala Dunia 2006 tak bisa dilepaskan dari sosok Guus Hiddink. Meneer yang satu ini punya tangan emas yang mampu menyulap tim kecil menjadi kekuatan menakutkan. Predikat tangan emas memang tak salah jika dialamatkan pada Hiddink. Beberapa negara dan klub kelas dua berhasil ia rubah menjadi tim kuat. Australia adalah pembuktian selanjutnya dari mantan pemain PSV Eindhoven ini.Negeri Kangguru yang belum pernah lolos ke Piala Dunia sejak 31 tahun lalu dibawanya lolos ke Jerman 2006. Hebatnya lagi, Hiddink baru bekerja untuk Australia selama empat bulan. Tepatnya pada 22 Juli 2005 ia dipercaya melatih Mark Viduka cs sebagai part timer karena ia juga tidak mau melepaskan kursi pelatih PSV Eindhoven. Pria Belanda itu ternyata langsung klop dengan Australia. Di pertandingan pertamanya dalam babak play off zona Oceania, Kepulauan Solomon mereka gilas 7-0 dan 2-1. Kekalahan 0-1 memang skuadnya bawa pulang saat bertandang ke Uruguay, tapi pada laga kandangnya Australia membalas 4-2 (lewat adu penalti) dan memastikan satu tiket Piala Dunia saat bertanding di stadion Telstra, Sydney.Ini memang bukan kali pertama Hiddink membawa sebuah negara lolos ke hajatan besar FIFA itu. Tercatat Belanda di Piala Dunia 1998 dan Korea Selatan (2002) meraih prestasi serupa.Yang paling fenomenal tentu saja penampilan Korea Selatan tiga tahun lalu. Tim "Negeri Ginseng" itu memang sudah menjadi langganan Piala Dunia sejak tahun 1986, tapi mereka hanya menjadi penggembira dengan selalu gagal di babak pertama.Bersama Hiddink sejarah baru berhasil ditorehkan Korea. Ahn Jung Hwan cs disulap menjadi tim yang menakutkan dan mampu mencapai posisi empat di akhir turnamen. Dalam perjalanannya Korea bahkan mampu menundukkan tim kuat Portugal, Italia, dan Spanyol, sebelum dihentikan Jerman di babak semifinal.Prestasi serupa sebenarnya juga ia torehkan empat tahun sebelumnya. Di Piala Dunia Prancis 1998 Hiddink membawa negara kelahirannya Belanda juga meraih peringkat empat. Setelah kalah dari Brasil di babak semifinal, "Tim Oranye" kembali kalah dari Kroasia diperebutan tempat ketiga.Di level klub prestasinya juga tak bisa dibilang jelek. Walau sempat gagal bersama Fenerbache (1990), Valencia, Real Madrid dan Real Betis namun bersama Eindhoven karir kepelatihannya berjalan mulus.Pertama kali menangani Eindhoven tahun 1987 (setelah sebelumnya menjabat asisten pelatih sejak 1983) beberapa gelar berhasil ia sumbangkan ke Stadion Philips. Yang paling mengesankan tentu saja gelar juara Liga Champions (1988) dan tiga gelar juara Liga Belanda dalam kurun 1987/1990.Musim lalu setelah kembali ke Eindhoven, Philip Cocu dkk hampir ia bawa ke final Liga Champions kalau saja Massimo Ambrosini tidak membobol gawang Da Silva Gomes dan memaksa kalah dengan peraturan gol di kandang lawan. Jadi mampukah pria yang tahun ini memasuki usia 59 tahun itu membawa Australia paling tidak menyamai prestasi dua negara yang ia latih sebelumnya? atau bahkan prestasi lebih tinggi bisa ia berikan untuk Australia? Jawabannya baru bisa kita tunggu sepanjang bulan Juni dan Juli nanti. (Sumber foto: ABC) (mel/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads