sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Kamis, 26 Nov 2020 18:40 WIB

Kenangan Bambang Nurdiansyah Duel dengan Maradona pada 1979

Muhammad Robbani - detikSport
Jakarta -

Piala Dunia Junior 1979 menjadi kenangan seumur hidup buat Bambang Nurdiansyah. Bagaimana tidak, ia dan rekan-rekannya berkesempatan menghadapi Diego Maradona.

Kebintangan Maradona sudah diketahui dimana-mana meski saat itu usianya masih 18 tahun. Pemain kelahiran 30 Oktober 1960 itu bahkan sudah berstatus pemain Timnas Senior Argentina sejak debut di usia 16 tahun pada 1977.

Cesar Luis Menotti, pelatih Argentina kala itu, berani menyertakan pemain semuda itu di tim senior Argentina karena kualitas Maradona memang fenomenal. Kebetulan Cesar Luis Menotti juga yang menangani Timnas Argentina Junior.

Maradona pun disertakan di Piala Dunia Junior 1979 yang diselenggarakan di Jepang. Selain Maradona, ada juga calon-calon bintang Argentina lainnya seperti Ramon Diaz hingga Juan Barbas.

Bambang Nurdiansyah ikut mendengar kabar rencana tim Argentina junior bakal menyertakan Maradona. Tentu saja pemain Indonesia yang lain juga begitu gembira mendengar kabar tersebut.

[Gambas:Instagram]

"Kami pemain Timnas Indonesia bangga dan itu sangat berkesan karena bisa menghadapi bintang dunia. Saat itu dia sudah menjadi bintang. Jadi menurut saya ini hal yang jarang didapatkan orang lain," kata Bambang Nurdiansyah membuka percakapan dengan detikSport.

"Bahkan kami satu hotel dengan tim Argentina. Hampir setiap saat bisa ketemu Maradona. Itu yang membanggakan dan pengalaman yang sulit didapatkan.

Piala Dunia Junior adalah nama lama dari Piala Dunia U-20. Pada edisi 1979 Indonesia mendapatkan kesempatan debut tampil di ajang ini.

Saat itu Indonesia tergabung di Grup B bersama Argentina, Polandia, dan Yugoslavia. Pada pertandingan pertama, Indonesia langsung jumpa Argentina.

Argentina mencukur Indonesia dengan skor telak 5-0 dimana Maradona (dua gol) dan Ramon Diaz (hat-trick) menjadi bintangnya. Kemenangan telak Argentina itu bukan hal mengejutkan mengingat pemain Indonesia yang minim pengalaman dan kalah kelas.

Timnas Indonesia sudah memprediksi bakal sulit mengimbangi Argentina. Tapi Bambang Nurdiansyah malah mengaku tak sabar menantikan duel melawan Argentina yang diperkuat Maradona.

"TVRI sudah menayangkan cuplikan-cuplikan pertandingan Argentina senior yang menyertakan Maradona di Eropa. Di media cetak juga begitu banyak sorotan dan memberitakan bagaimana kehebatan Maradona," tutur Bambang Nurdiansyah yang kini menjadi pelatih itu.

"Tiba-tiba ada berita dia (Maradona) akan diturunkan untuk memperkuat tim Argentina junior karena umurnya masih bisa. Maradona dijadikan kapten. Gugup sih nggak ya, justru malah ada motivasi. Cuma kelas kita memang kalah di bawah mereka," ucapnya.

Maradona benar-benar menjadi bintang ajang ini dengan bukti gelar pemain terbaik yang didapatkannya. Sementara Ramon Diaz keluar sebagai top scorer dengan torehan delapan gol.

Aksi-aksi fenomenal Maradona yang bisa melewati banyak pemain juga diperlihatkannya di Piala Dunia Junior 1979. Termasuk pada laga melawan Indonesia.

"Maradona melawan Indonesia tuh kaya nggak menghadapi orang, gampang banget dia melewati pemain kita. Orang-orang Eropa saja dilewati dengan gagahnya dan main bagus waktu dia main senior," ucap Banur, sapaan akrab Bambang Nurdiansyah, mengenang.

"Waktu lawan kita ya sudah, dia seperti bermain nggak ada lawan. Pelatih waktu itu strateginya cuma menyiapkan pemain untuk menjaga Maradona. Mundari Karya yang dapat tugas itu," tuturnya.

Maradona kini telah tiada. Ia meninggal dunia hari Rabu (25/11/2020), di usia 60 tahun.

(cas/mrp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com