Norwegia Serukan Protes ke Qatar di Matchday 1 Kualifikasi Piala Dunia 2022

Randy Prasatya - Sepakbola
Kamis, 25 Mar 2021 08:40 WIB
Norways Jonas Svensson celebrates with team mates scoring his sides 3rd goal during the World Cup 2022 group G qualifying soccer match between Gibraltar and Norway in Gibraltar, Wednesday March 24, 2021. (AP Photo/Javier Fergo)
Norwegia kalahkan Gibraltar 3-0 di Kualifikasi Piala Dunia 2022. (Foto: AP/Javier Fergo)
Jakarta -

Norwegia memulai perjalanannya di Kualifikasi Piala Dunia 2022 dengan sangat berani. Erling Haaland dkk menyerukan protes ke Qatar selaku negara tuan rumah.

Norwegia bertandang ke markas Gibraltar di matchday pertama Grup A. Pada duel yang berlangsung di Stadion Victoria, Kamis (25/3/2021) dini hari WIB, Norwegia pulang dengan kemenangan 3-0.

Gol-gol Norwegia dicetak oleh Alexander Sorloth (43'), Kristian Thorstvedt (45'), dan Jonas Svensson (57'). Hasil ini untuk sementara membuat Norwegia memimpin puncak klasemen karena unggul selisih gol, yang diikuti oleh Turki, dan Montenegro.

Sorotan pada laga ini bukan cuma hasil pertandingan, namun juga ke aksi protes Norwegia saat memasuki lapangan. Seluruh pemain besutan Stale Solbakken mengenakan kaos putih bertuliskan "Human rights on and off the pitch".

Hal itu menjurus ke negara Qatar selaku tuan rumah Piala Dunia 2022. Qatar sejak ditunjuk sebagai tuan rumah mendatangkan banyak para pekerja dari Asia Selatan untuk membangun stadion.

Mirisnya, terhitung sejak 2011 ada sekitar 6.500 pekerja meninggal dunia. Berdasarkan dokumen dari otoritas Qatar dan pihak-pihak kedutaan, yang dihimpun The Guardian, ada 5.927 migran meninggal asal India, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka selama 2011-20, ditambah 824 korban jiwa dari Pakistan antara 2010-20.

Ahli analisa khawatir jumlah korban tewas secara signifikan lebih tinggi, karena angka resmi tidak termasuk kematian dari Kenya dan Filipina, yang juga mengirim pekerjanya dengan jumlah besar.

Lima klub sepakbola asal Norwegia di liga Eliteserien juga sudah bergabung dengan seruan boikot setelah laporan Guardian.

"Kata dialog sangat kabur dan sangat pengecut. Harus ada tekanan. Tindakan langsung harus diambil untuk membuat segalanya lebih baik," kata Solbakken kepada penyiar TV2 Norwegia, beberapa hari sebelum laga melawan Gibraltar.

"Ini tentang memberi tekanan pada FIFA (badan sepakbola) untuk menjadi lebih tegas dengan pihak berwenang di Qatar, untuk memberlakukan persyaratan yang lebih ketat," tegasnya.

Martin Odegaard, yang menjadi kapten Norwegia, menegaskan bahwa aksi yang dibuat murni dari rasa empati para pemain.

"Saya mendapat kesan bahwa banyak (pemain) tertarik dengan ini, peduli dan ingin melakukan sesuatu untuk mencoba dan berkontribusi dengan cara yang baik," kata Odegaard, yang kini bermain untuk Arsenal.

Para pekerja migran tercatat banyak yang meninggal karena sebab alamiah. Biasanya mengarah pada dugaan cardiac arrest atau gagal jantung, istilah umum yang belum dapat menjelaskan alasan spesifik kematian. Di satu sisi, kebanyakan angkatan kerja yang direkrut untuk bekerja di sektor konstruksi Qatar sudah lolos uji kesehatan dan usianya relatif muda.

Guardian sudah mengkritik bagaimana "sindrom mati mendadak" di kalangan pekerja migran ini tidak diusut serius, padahal jumlah kasusnya besar. Hukum di Qatar melarang tindakan otopsi kecuali terdapat dugaan unsur kriminal atau almarhum tercatat punya riwayat sakit, hal ini yang membuat pihak keluarga pekerja sangat curiga adanya unsur eksploitasi.



Simak Video "Jelang Laga Indonesia Vs Thailand, GBK Masih Sepi Suporter"
[Gambas:Video 20detik]
(ran/mrp)