Si Kembar Mancini-Vialli di Wembley: Tak Ada Lagi Luka, Adanya Suka

Mohammad Resha Pratama - Sepakbola
Selasa, 13 Jul 2021 21:20 WIB
Italy manager Roberto Mancini, left, and Gianluca Vialli, head of the Italian national team celebrate after victory in the penalty shoot out during the Euro 2020 soccer championship final match between England and Italy at Wembley Stadium in London, Sunday, July 11, 2021. (Christian Charisius/dpa via AP)
Roberto Mancini dan Gianluca Vialli menghapus luka di Wembley tahun 1992 (AP/Christian Charisius)
London -

Roberto Mancini dan Gianluca Vialli pernah merasakan mimpi buruk di Wembley 30 tahun lalu. Gelar juara Euro 2020 sudah cukup menghapus luka tersebut.

Mancini adalah pelatih Italia dan Vialli merupakan kepala delegasi tim. Keduanya jadi andalan untuk membangkitkan Gli Azzurri yang bobrok usai gagal lolos ke Piala Dunia 2018.

Mancini dan Vialli memang sudah berteman dekat sedari sama-sama di klub, Kebetulan keduanya adalah duet sehati di Sampdoria pada awal 90-an. Kolaborasi keduanya lah yang akhirnya melajukan Italia ke tangga juara Piala Eropa 2020.

Pada laga final di Wembley, Senin (12/7/2021) dini hari WIB, Italia mengalahkan Inggris lewat adu penalti dengan skor 3-2, setelah berimbang 1-1 sepanjang 120 menit.

Bagi Italia ini adalah gelar kedua di ajang ini, setelah yang pertama pada tahun 1968. Kegembiraan tentu jadi milik para pemain yang sudah berjuang sekeras mungkin membawa Italia kembali ke habitatnya sebagai tim besar.

Tapi, kredit pantas diberikan untuk Mancini, Vialli, dan tim pelatih Italia yang sudah membuat skuad begitu tangguh saat ini. Khusus untuk Mancini dan Vilalli, kemenangan ini menghapus luka lama mereka di Wembley.

Stadion berkapasitas 90 ribu tempat duduk itu pernah menyimpan cerita tak mengenakkan untuk keduanya. Saat masih bersama-sama membela Sampdoria, Mancini dan Vialli kalah dari Barcelona di final Piala Champions 1992.

Sampdoria kala itu takluk dengan skor 0-1 lewat sepakan bebas Ronald Koeman di masa perpanjangan waktu. Sampdoria yang dilatih Vujadin Boskov kala itu memang luar biasa.

Dipimpin duet Mancini dan Vialli, mereka menjuarai Piala Winner, tiga kali Coppa Italia, dan tentunya Scudetto pada 1991. Vialli adalah bomber Sampdoria dengan torehan gelar top scorer saat jadi juara dengan Mancini sebagai pemain nomor 10 alias mesin assist.

Setelah final 1992, Gianluca Vialli pergi ke Juventus dan meninggalkan Roberto Mancini di Sampdoria. Kini kedua pemain yang dijuluki 'The Twins atau si Kembar' semasa berduet dulu, bersatu lagi untuk menikmati rasanya jadi juara Eropa.

(mrp/rin)