We Miss You but We (Don't) Hate You, Patrick
Selasa, 28 Mar 2006 12:07 WIB
Jakarta - Pertandingan malam ini, atau Rabu (29/3/2006) dinihari WIB, sudah pasti akan jadi momen bersama seluruh anggota tim yang bertanding, tapi yang paling istimewa menyangkut Patrick Vieira.Vieira untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir akan menjejak rumput di Stadion Highbury, London, bukan sebagai pemain Arsenal. Dia kini membela Juventus, tim yang oleh banyak kalangan dijagokan dapat mengatasi bekas klubnya itu.Vieira barangkali akan menangis diam-diam jika "Si Nyonya Tua" bisa menyingkirkan The Gunners di babak perempatfinal Liga Champions ini, satu-satunya turnamen Eropa yang belum pernah dimenangi klub kota London itu.Tidaklah mungkin Arsenal tidak punya tempat yang istimewa di hati Vieira, meskipun belum lama ini ia mengatakan: "Juventus adalah klub terkuat yang pernah saya perkuat. Selama di Arsenal, saya belum pernah merasa seoptimistis ini untuk menjadi juara Eropa."Tapi perhatikan, pernyataan tersebut dibuat Vieira ketika ia sedang berada di atas. Pemain berusia 29 tahun itu datang ke Turin saat Juve mulai menikmati sukses tersendiri berkat kehadiran Fabio Capello, yang begitu tiba di Delle Alpi langsung mempersembahkan titel scudetto. Di Juventus Vieira masih jauh dari masa pasang-surut yang pernah ia rasakan bersama Arsenal. Ia tumbuh bersama Arsenal, naik-turun seperti halnya klubnya itu. Vieira yang dulunya seorang pemuda temperamental, pengoleksi kartu merah, pelan-pelan menjadi jenderal lapangan tengah berkharisma dan disegani baik kawan maupun lawannya.Vieira remaja bukanlah siapa-siapa sekalipun pada musim panas 1995 dibeli AC Milan dari klub Prancis AS Cannes. Ia menghabiskan usia 19 tahunnya di Italia bersama tim cadangan Rossoneri dan hanya dua kali memperkuat skuad ini. Bukan curriculum vitae yang membanggakan, barangkali.Buat Vieira, life begins at twenty karena setahun kemudian ia ditarik Arsene Wenger ke Inggris. Lalu cerita tentang siapa pria kelahiran Dakar, Senegal, itu bergulir berangkai-rangkai sampai ia menjadi sekaliber sekarang. Berkat siapa itu? Arsenal -- dan Juventus sungguh beruntung bisa memetik buah manis yang sudah jadi itu.Rabu (29/3/2006) dinihari nanti Vieira akan kembali ke Highbury, bertemu Wenger, teman-teman lama dan suporter setianya. Semestinya ia tidak mendapat sambutan yang tidak mengenakkan mengingat jasanya terlalu banyak buat klub ini.Dalam perseteruan abadi dengan Manchester United, misalnya, hanya Vieira yang paling bisa menandingi "kebuasan" seorang Roy Keane. Ia menjadi representasi perlawanan Arsenal atas musuh bebuyutannya itu. Ada yang bilang, Thierry Henry adalah hulu ledak "peluru kendali" The Gunners, tapi trigger-nya Vieira.Pada Natal tahun lalu terdengar pengakuan massal dari markas Arsenal bahwa betapa klub ini sangat merindukan sosok lelaki yang bagian dada pada seragamnya selalu terlihat basah saat bermain itu. Vieira diputuskan sebagai the missing link dari merosotnya prestasi Arsenal musim ini.Vieira tahu dirinya dirindukan, seperti mungkin ia juga merindukan Arsenal. Tapi kerinduan itu hanya sebatas "nostalgia" karena ia sudah jadi milik orang lain, malam ini bahkan sebagai musuh.Sebagai seorang profesional, Vieira tentu akan bermain sepenuh hati buat Juventus, yang tentu saja sangat ingin mengalahkan Arsenal. Di sisi lain, fans Arsenal yang dewasa tentu mengerti posisi idolanya itu, dan tidak mesti menjadi benci karenanya. Memplesetkan judul lagu grup Slank, We miss you, but we (don't) hate you.Foto: Kenangan manis Patrick Vieira bersama Arsenal (ist). (a2s/)











































