Qatar Penjarakan Mantan Pekerja Piala Dunia 2022, FIFA Kena Semprot

Yanu Arifin - Sepakbola
Kamis, 16 Des 2021 12:07 WIB
LUSAIL, QATAR - UNDATED:   In this handout rendered image released by the 2022 Supreme Committee for Delivery and Legacy, Qatar 2022 FIFA World Cup: tournament organisers unveil design for 85,000 seater Lusail Stadium, venue to host opening and final games in 2022 on December 15, 2018 (Photo by 2022 Supreme Committee for the Delivery & Legacy for the FIFA World Cup Event via Getty Images)
Stadion Piala Dunia 2022 di Qatar. (Foto: 2022 Supreme Committee for the Delivery & Legacy for the FIFA World Cup Event via Getty Images)
Doha -

Mantan pekerja Piala Dunia 2022, Abdullah Ibhais, dipenjara selama tiga tahun di Qatar. Keputusan membuat FIFA juga kena kecam.

Dikutip Guardian, Ibhais, mantan manajer media senior Piala Dunia 2022, dipenjara selama tiga tahun. Ada dua versi terkait pemenjaraannya.

Menurut Qatar, Ibhais dipenjara karena meminta suap terkait pengadaan barang yang didanai pemerintah. Sementara ada laporan bahwa Ibhais dipenjara karena mengkritik Komite Tertinggi atas penangannya pada pemogokan pekerja imigran.

Human Rights Watch dan FairSquare, dua lembaga pembela Hak Asasi Manusia, mengecam keputusan ini. Mereka, yang juga menyelidiki kasus ini, menilai tak ada bukti Ibhais bersalah. Mereka juga mengecam FIFA karena bungkam soal keputusan ini.

"Kasus ini masuk ke inti masalah serius Piala Dunia Qatar dan setiap hari Abdullah Ibhais tetap di penjara, semakin banyak orang akan tahu namanya, tahu apa yang dia lakukan untuk para pekerja migran yang membangun Piala Dunia Qatar, dan tahu harga yang harus dia bayar untuk itu, " kata Nicholas McGeehan, Wakil Direktur FairSquare.

"Apakah dia mendapatkan pengadilan yang adil? Tidak. Apakah FIFA menyerukan pengadilan yang adil? Tidak, mereka tidak melakukannya, yang menurut saya cukup memalukan."

"Penyelenggara Piala Dunia Qatar yang menghasut penuntutan ini, tetapi keheningan FIFA yang memungkinkan putusan hari ini. Tidak ada bukti selain dipaksa mengaku," katanya.

Qatar bersikeras bahwa Ibhais, yang dipecat pada 2019, dijatuhi hukuman atas tuduhan penipuan terkait kontrak untuk memproduksi konten media sosial untuk Piala Dunia 2022. Pengadilan kemudian memvonisnya bersalah.

"Pengadilan banding menguatkan vonis bersalah dalam kasus Tuan Abdullah Ibhais. Dia dinyatakan bersalah setelah pemeriksaan yang cermat terhadap banyak bukti kuat dan kredibel terhadapnya karena meminta suap untuk mempengaruhi hasil dari proses pengadaan yang didanai negara. Bukti ini mencakup rincian yang luas dari kejahatan, lebih dari pengakuan terdakwa sendiri," kata pernyataan pejabat Qatar.

Yang menjadi persoalan, Qatar juga belum bisa membuktikan pelanggaran Ibhais. McGeehan juga mengungkapkan, Ibhais dipenjara karena mengungkap kondisi internal pekerja Piala Dunia 2022.

"Sebaliknya, Abdullah mengklaim bahwa dia mengambil sikap terhadap hak-hak pekerja secara internal, dia punya bukti untuk mendukung itu," kata McGeehan.

"Dia memberi kami penjelasan yang sangat jelas tentang apa yang terjadi dalam kasus ini, sebelum dipublikasikan, dan semua itu telah dibuktikan oleh dokumentasi yang kami lihat kemudian.

Piala Dunia 2022 sendiri akan digelar kurang lebih dari setahun lagi. Beberapa negara juga menyoroti dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan Qatar, jelang pesta akbar sepakbola tersebut.

(yna/krs)