Jelang Final Liga Champions
Amarah Jadi Bekal Henry
Selasa, 16 Mei 2006 14:55 WIB
Paris - Thierry Henry tergolong pesepakbola yang santun di atas lapangan. Tapi bukan berarti ia tak punya emosi, striker Arsenal itu justru mengaku dirinya sangat pemarah. Siap meledak di Stade de France?Buat Arsenal inilah final pertama mereka di Liga Champions. Dan Henry punya lebih dari sekedar semangat membara untuk memenangkan final Liga Champions edisi ke-51 ini, Kamis (18/5/2006) dinihari WIB. Salah satunya alasannya adalah tempat digelarnya partai final yang tak lain adalah kampung halaman Henry.Tepat 29 tahun lalu Henry lahir di Les Ulis, salah satu sudut kota Paris. Dan di sanalah Henry menghabiskan masa kecilnya sebelum memulai karir sepakbola profesionalnya di AS Monaco. Jadi saat ia kembali ke Paris dan bermain di depan "keluarganya", tak ada lagi yang dibutuhkan eks penyerang Juventus itu untuk tampil mengkilap. Apalagi diakuinya semua kemampuan yang ia miliki sekarang datang dari sang Ayah."Semua yang saya dapat datang dari Ayah saya. Cara saya bermain, komitmen, semangat tanding, seluruhnya datang dari dia. Dia selalu bilang ke saya untuk tidak cepat puas itulah mengapa ketika saya bermain bagus dan mampu mencetak gol saya selalu menanggapinya dengan dingin dan lebih memikirkan pertandingan selanjutnya. Itulah filosofi saya dan akhirnya membawa saya ke sini. Bagaimana saya tumbuh jelas punya peran besar dalam pembentukan saya sekarang. Hasrat dan amarah -- dengan cara yang tepat -- membimbing saya," terang Henry seperti diberitakan UEFA, Selasa (16/5/2006).Amarah? Demikianlah pengakuan Henry. Disebutnya, walau jarang terlihat naik darah di atas lapangan, emosi yang meledak-ledak menjadi senjata rahasianya untuk bisa berada di level seperti sekarang."Orang takut akan amarah, tapi sesekali anda harus mencantumkannya. Wayne Rooney adalah contoh yang baik. Kadang orang mengkritik bagaimana sikap saya di lapangan, tapi saya tak takut marah dan menggunakannya untuk sesuatu yang positif. Tanpa amarah saya tak akan seperti ini," tambah pemain yang total sudah mencetak 49 gol di Liga Champions itu.Amarah memang tak harus ditampilkan secara fisik, dan Henry sepakat soal hal itu. Calon lawannya di final nanti malah masuk dalam golongan murah senyum. Dengan skil individu yang aduhai, Ronaldinho mungkin orang teramah di atas lapangan."Orang selalu membicarakan senyuman Ronaldinho. Tapi saya katakan pada Anda di dalam dirinya tak ada senyum. Saat saya melihat Rooney dan Ronaldinho, saya melihat pemain dengan sesuatu yang berbeda. Saya menyukai bola basket dan Michael Jordan mungkin pemain terhebat yang pernah ada, tapi Anda tak pernah melihatnya tersenyum di atas lapangan. Jika Anda tak punya faktor amarah, lebih baik tinggal di rumah saja," tambah Henry.Kunci lain keberhasilan Henry adalah mencoba menjadi sempurna. Bukannya tak paham kalau tak ada yang sempurna di dunia ini, tapi menurut kapten Arsenal ini dengan berusaha mencapai kesempurnan berarti dirinya bakal terus berkembang dan tetap rendah hati."Anda tak akan pernah mendapat kesempurnaan, tapi itulah yang ingin saya lakukan sekarang, karena hanya dengan melakukannya Anda bisa tetap rendah hati. Saya akan sangat bahagia jika bisa meraih tropi Liga Champions, tapi Anda tk akan pernah puas," tutup pemain yang sudah tujuh musim berseragam Arsenal itu.Foto: Thierry Henry, mengandalkan amarah untuk meningkatkan performa (UEFA). (din/)











































