Bos PSG Mau Beli Tottenham, Memang Dibolehkan UEFA?

ADVERTISEMENT

Bos PSG Mau Beli Tottenham, Memang Dibolehkan UEFA?

Adhi Prasetya - Sepakbola
Rabu, 11 Jan 2023 21:20 WIB
PARIS, FRANCE - MAY 23: President of PSG Nasser Al Khelaifi during a press conference about the new contract of Kylian Mbappe with Paris Saint-Germain at the auditorium of Parc des Princes stadium on May 23, 2022 in Paris, France. (Photo by John Berry/Getty Images)
Bos PSG, Nasser Al-Khelaifi. Foto: Getty Images/John Berry
Jakarta -

Qatar Sports Investment (QSI) selaku pemilik Paris Saint-Germain sedang mengincar saham klub Premier League. Apakah hal itu diperbolehkan? Bagaimana aturannya?

Saat ini, QSI juga memiliki saham minoritas di klub Portugal, yakni Braga. Namun untuk bisa memiliki klub Premier League, dalam artian saham mayoritas, terbilang mustahil. Apalagi jika yang disasar adalah klub-klub besar langganan kompetisi Eropa.

Menurut aturan UEFA, seperti dijabarkan BBC, tak boleh ada individu atau entitas hukum yang memiliki kontrol terhadap lebih dari satu klub di sebuah kompetisi yang digelar UEFA (Liga Champions, Liga Europa, dan Europa Conference League).

Kontrol yang dimaksud meliputi:

  • memegang mayoritas hak voting di antara pemegang saham
  • memiliki hak untuk menunjuk atau mengganti anggota administratif, manajemen, atau dewan pengawas klub
  • menjadi pemegang tunggal hak voting lewat keputusan yang disepakati di antara para pemegang saham
  • dengan cara apapun memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan di dalam klub

Melihat kondisi yang ada, sulit jika QSI mau mengambil saham mayoritas klub-klub Liga Inggris macam Tottenham Hotspur, Liverpool, atau Manchester United, kecuali QSI ingin melepas PSG secara permanen.

Kepemilikan dua entitas berbeda dalam satu kompetisi ditakutkan akan mencederai asas olahraga jika dua tim tersebut nantinya saling bertemu. Itu sebabnya UEFA melarangnya.

Memang ada kasus unik di Liga Europa 2018-19, saat RB Salzburg dan RB Leipzig bertemu di fase grup. Kedua tim diketahui terasosiasi dengan Red Bull, perusahaan minuman energi asal Austria. Namun UEFA akhirnya membolehkan.

Izin itu diberikan UEFA setelah memastikan manajemen dua klub itu tak ada yang 'berdiri di atas dua kaki'. Saat itu, kabarnya banyak pergantian susunan manajemen yang dilakukan agar mendapat lampu hijau dari UEFA.

Jadi, jika QSI ingin membeli klub Liga Inggris, kemungkinan besar hanya saham minoritas saja yang diakuisisi.

(adp/adp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT