Sepakbola yang Tak Adil dan Kejam
Minggu, 01 Apr 2007 11:04 WIB
Paris - Bahwa sepakbola terkadang adalah sebuah permainan yang tidak adil, sudah banyak yang mengatakannya. Tapi mengalami dan merasakannya langsung tetap saja mengiris-ngiris emosi.Gerard Houllier adalah orang terakhir yang menelan kenyataan pahit itu. Untuk bisa menerima kekalahan Olympique Lyon dari Bordeaux di final Piala Prancis tadi malam, Sabtu (31/3/2007), pria Prancis itu harus merangkai kata-kata dramatis."Saya merasa ini adalah sebuah ketidakadilan yang kejam untuk pemain-pemainku. Mereka tidak memperoleh ganjaran atas keberanian mereka mengambil banyak risiko," ujarnya tentang kekalahan 0-1 itu."Bordeaux adalah pemenang yang hebat, dan kami kalah. Tapi ini rasanya seperti sebuah 'penodongan'," sambungnya.Houllier bisa dimaklumi merasa lemas seperti itu. Faktanya, sepanjang pertandingan timnya terlihat lebih baik secara teknis dan menguasai permainan yang digelar di Stade de France, Paris, itu. Sebaliknya, Bordeaux menghabiskan sebagian besar waktunya di areal sendiri. Sebelum kickoff, pelatih Ricardo Gomes bahkan mengumumkan rencananya bermain defensif -- dan itu benar-benar ia lakukan.Gol tunggal kemenangan Bordeaux lahir dari serangan berbahaya pertama mereka, ketika pertandingan telah masuk menit ke-90. Bermula dari sepak pojok Johan Micoud, bek asal Brasil Henrique mampu menceploskan bola ke gawang Remi Vercouet, yang sebelum itu lebih seperti seorang "pengangguran"."Lyon mungkin lebih kuat, tapi Piala ini milik kami," cetus Ricardo. "Kami bermain sesuai keinginan. Betul bahwa kami tidak dalam posisi menentukan permainan kami pada mereka. Banyak kesalahan, tapi inilah pertandingan final."Foto: Striker Lyon Fred terbang di atas bek Bordeaux Henrique. (AFP/Thomas Coex) (a2s/a2s)











































