Sepakbola Candu Dunia

Sepakbola Candu Dunia

- Sepakbola
Jumat, 13 Apr 2007 09:15 WIB
Sepakbola Candu Dunia
London - Kalau kita menelaah perjalanan kehidupan agama, maka pasti akan menemui saat-saat menentukan yang yang menggarisbawahi titik-titik pencerahan. Titik di mana yang lalu dan yang kini atau masa ke depan terpisahkan oleh garis yang nyata.Penyaliban Yesus bagi umat Kristiani, penurunan wahyu pertama untuk Muhammad bagi ummat Islam, duduknya Budha Gautama di bawah pohon Bodhi bagi ummat Budha. Ini hanyalah sebagi contoh.Dari persitiwa itulah bibit nilai disemaikan dan kemudian terus berkembang menjadi ajaran lalu kemudian melembaga menjadi agama.Agama dari kurun ke kurun pun kemudian memerlukan peristiwa yang akan bisa memperteguh keyakinan. Bisa jadi bernama reformasi, redefinisi, pembaharuan atau sekian macam istilah lain yang intinya membenarkan keberadaan agama itu.Pada saat inilah biasanya pemeluk-pemeluk baru terekrut. Ataupun juga mereka yang sudah jauh kembali ke pangkuan. Kembali menjadi taat. Karena agama tiba-tiba kembali menjadi relevan.Tak ada kehendak untuk menyamakan yang satu ini dengan saat-saat kenabian atau kesucian tertorehkan. Tetapi dalam skala yang lebih kecil proses peneguhan kembali itu dalam kehidupan keseharian terus terjadi. Tidak harus untuk persoalan yang seserius agama. Bisa jadi satu persoalan yang remeh temeh seperti sepakbola.Mungkin tidak layak untuk menyebut penggemar sepakbola sebagai umat, cukuplah pecandu saja. Mereka ini juga membutuhkan peneguhan kembali akan kecanduan mereka atau mengapa mereka kecanduan.Jelas ritual persepakbolaan pelembagaan telah mapan adanya. Dari Piala Dunia, Piala Eropa, Copa Libertadores, Piala Asia, sekian banyak kompetisi lokal, semuanya termapankan dengan rapi. Pecandu sepakbola tinggal mengikutinya.Tetapi seperti ritual keagamaan, semuanya bisa menjadi rutinitas. Umat bisa menjadi lalai nilai. Mereka butuh digoncang untuk kembali sadar mengapa mereka beragama, mereka menjadi pecandu.Maka sekali dalam satu kurun muncullah pembaruan. Inggris memperkenalkan 'Kick and Rush' di awal persemaian permainan bola. Italia mempopulerkan 'Cattenacio' di tahun 30'an. Belanda di tahun 70'an memperkenalkan 'total football'. Brazil dengan sepakbola 'Samba'-nya yang sempurna tahun 80'an.Peneguhan kembali dalam persepakbolaan tidak selalu harus bersifat sistemik. Bisa jadi adalah persoalan kemampuan brilian individu. Beberapa saja yang paling dikenang orang, misalnya Maradona. Berapa kali ia merobek pertahanan tim lawan sendirian. Atau Pele yang bisa mencetak gol dengan kepala, kaki kiri maupun kanan, tumit, paha, pendeknya setiap jengkal tubuh kecuali tangan tentunya.Sekali dalam satu kurun waktu peneguhan bisa terjadi karena melihat pertandingan yang maha indah. Setiap penggemar bola akan bisa menyebutkan satu pertandingan atau bahkan beberapa dalam masa hidupnya yang dianggap terbaik.Entah sudah berapa banyak pertandingan, langsung atau lewat televisi, saya tonton selama 30 tahun terakhir. Setiap kali ketertarikan mulai mengendor selalu saja ada satu atau dua hal yang menarik kembali saya untuk menjadi pecandu bola.Dan dalam seminggu ini, harus saya katakan, kecanduan akan sepakbola kembali terteguhkan ketika melihat Manchester United meluluhlantakkan AS Roma 7-1 di perempatfinal Liga Champions.Dalam satu pertandingan, delapan gol tercipta dan kesemuanya layak dinominasikan sebagai gol-gol terbaik sepanjang tahun. Atribut kerja sama tim yang indah, kecepatan, presisi, kemampuan indvidu yang brilian, semua ada dalam setiap gol yang tercipta. Kalau saja setiap pertandingan bisa seperti ini, aduhai alangkah indahnya.===*)Penulis adalah wartawan Detikcom, tinggal di London. (lza/lom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads