Sulitnya Mourinho Akui Kegagalan

Sulitnya Mourinho Akui Kegagalan

- Sepakbola
Rabu, 02 Mei 2007 09:39 WIB
Sulitnya Mourinho Akui Kegagalan
Jakarta - Belakangan ini lidah Jose Mourinho terasa sungguh tajam. Banyak pihak -- kelompok maupun perorangan -- yang menjadi target kelihaiannya bermain kata-kata.Mind games ala Mouriho harus diakui menjadikan sepakbola (Liga Inggris) tambah berwarna. Kalau orang Portugal ini tidak datang ke London, bisa jadi konflik dari level manajer tidak "semeriah" saat ini -- dan media massa begitu mencintainya.Dua minggu lalu dia mengumumkan "dua aturan baru" di Inggris seputar "hak tendangan penalti", yang jelas bermuara dari kebiasaannya mengeluhkan wasit. Lalu dia menyebut "adiknya" sendiri, Cristiano Ronaldo, sebagai pembohong karena pintar mengakali wasit untuk mencari penalti. Pemuda Portugal milik Manchester United itu membalasnya dengan mengatakan bahwa Mourinho tak tahu cara mengakui kegagalannya.Dibegitukan Mourinho kian pedas. "Anak itu membuat pernyataan yang tidak menunjukkan kedewasaan dan rasa hormat. Mungkin dampak dari kurang pendidikan, dan masa kecil yang susah," ketusnya. Wow!Lalu, menjelang duel Chelsea-Liverpool di semifinal Liga Champions, berturut-turut Mourinho menyerang dua subyek: Rafael Benitez dan Liverpool itu sendiri. Tentang Benitez, yang lebih sering ia kalahkan dalam statistik pertemuan mereka, Mourinho membedakan kelasnya. "Tiga musim tanpa gelar Premiership? Kalau saya sih pasti sudah dipecat!"Yang paling bikin panas telinga fans Liverpool adalah ucapan Mourinho menurunkan derajat klub yang satu itu. Dia bilang, Liverpool sudah jadi tim kecil karena prestasi-prestasi terakhirnya hanya di level turnamen (piala).Mourinho sepertinya tidak merasa perlu melihat sejarah The Reds sebagai juara 18 kali kompetisi Liga Inggris, yang telah dimulai sejak 1888, dan belum ada klub lain yang mengalahkan jumlah titelnya itu. Pun di kelas tertinggi di level Eropa, Liverpool adalah klub Inggris paling hebat dengan koleksi lima gelarnya."Hebatnya" lagi, Mourinho bergeming dengan pernyataannya itu setelah Chelsea kalah lewat adu penalti Rabu (2/5/2007) dinihari tadi di Anfield, dan terhenti langkahnya di Liga Champions."Saya selalu menaruh respek pada Liverpool dalam setiap ucapan. Dan saya tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Hari ini saya pikir tim terbaik adalah Chelsea, sekalipun melawan tim yang hanya main untuk Liga Champions," tukasnya.Apa yang dialami The Blues hari ini sudah membuyarkan ambisi quadruple yang dalam tiga musim terakhir selalu disinggung-singgung dengan Stamford Bridge. Faktanya, paling banter Chelsea baru bisa mengumpulkan dua tropi juara dalam satu musim: Liga Primer dan Piala Carling.Musim ini pun kemungkinannya juga demikian. Piala Carling memang sudah di tangan, tapi gelar Premiership tampaknya akan melayang ke tangan Manchester United. Yang kansnya masih fifty-fifty tinggal Piala FA.Untuk tim bernilai ratusan juta poundsterling dengan manajer bergaji paling besar di dunia, dua gelar di level turnamen (piala) lokal seharusnya tidak cukup -- kalau tidak mau dianggap sebagai kegagalan. Tapi Mourinho, yang menyebut dirinya Special One, sepertinya memang tak tahu cara mengakuinya. (a2s/lom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads