Final Liga Champions
Masih Percaya Maglia Fortunata, Milan?
Senin, 21 Mei 2007 10:47 WIB
Jakarta - Sepakbola tak melulu soal skil hebat sepasukan pemain dan jurus jitu sang pelatih mengolah strategi. Mitos dan kepercayaan pada hal di luar nalar masih melekat kuat.Saat UEFA memutuskan AC Milan bertindak sebagai tuan rumah di final Liga Champions musim 2006-2007, mungkin banyak orang mengira Rossoneri akan memilih seragam kebesaran mereka, merah-hitam. Ya, tim manapun pasti ingin berlaga di sebuah partai final dengan kostum keramat yang tentunya menunjukkan identitas sekaligus kebanggaan mereka sebagai sebuah klub.Apalagi Liverpool, lawan yang bakal dihadapi juga punya seragam dengan warna sama. Steven Gerrard cs malah bisa dibilang "lebih berhak" memakai warna merah menimbang julukan The Reds yang mereka sandang.Tapi disinilah mitos kembali punya peran besar. Ditambah faktor sejarah -- yang mungkin cuma kebetulan -- keyakinan pada hal-hal di luar akal sehat itu kembali menjadi sesuatu yang harus dilakoni oleh pemiliknya.Adalah Milan yang punya keyakinan akan hal-hal tersebut. Alih-alih bakal memilih seragam utamanya yang bergaris hitam-merah, Rossoneri malah menanggalkan atribut kebesarannya dan memilih menggunakan jersey keduanya yang berwarna putih.Maglia fortunata, begitu kubu Milan -- dan orang Italia -- memberi sebutan pada perlengkapan yang dianggap membawa keberuntungan. Dan seragam putih dianggap Milan lebih memiliki tuah tersebut.Memang ada fakta yang mendasari hal itu. Dari enam gelar Liga Champions yang dimenangi Milan, lima diantaranya didapat saat mereka merumput justru dengan seragam putih yakni tahun 1963, 1989, 1990, 1994 dan 2003. Satu-satunya kemenangan yang diraih dengan seragam merah-hitam adalah tahun 1969.Tapi Milan harusnya juga masih ingat dengan kenyataan getir yang harus mereka telan dua musim lalu. Ketika dikalahkan Liverpool lewat adu penalti -- setelah sebelumnya memimpin 3-0 -- Paolo Maldini cs memakai seragam putih (!).Keputusan memilih warna putih otomatis memberi Liverpool kesempatan memakai jersey tradisonal mereka, merah. Lagi-lagi bicara Maglia fortunata -- atau lucky kit buat orang Inggris --, ini justru memberi keuntungan besar buat pasukan Rafael Benitez.Soalnya di lima kesempatan menjuarai Liga/Piala Champions tahun 1977, 1978, 1981, 1984 dan 2005, Liverpool justru datang dengan seragam merah.Yunani memang punya banyak dewa-dewi, tapi Kamis (24/5/2007) mendatang, Milan dan Liverpool pasti cuma mau ditemani dewi fortuna. Siapa bakal kebagian? (din/mel)










































