Copa Amerika
Pada Akhirnya yang Penting Menang
Senin, 16 Jul 2007 07:15 WIB
Maracaibo - Carlos Dunga menjawab singkat tapi telak kepada Alfio Basile, bahwa pada akhirnya kemenangan lebih penting daripada permainan cantik, bahwa prestasi terbaik berwujud piala.Begitulah Brasil di ajang Copa Amerika 2007 yang digelar di Venezuela. Hadir dengan tim kelas dua, tanpa nama-nama besar yang ditakuti di dunia, di penghujung turnamen Tim Samba tampil sebagai pemenang.Bertanding melawan musuh besarnya Argentina di final, Senin (16/7/2007) pagi WIB, Robinho dkk meraih kemenangan cukup telak 3-0. Ketiga gol tersebut diciptakan Julio Baptista, Daniel Alves, serta bunuh diri kapten Argentina Roberto Ayala.Brasil memulai dengan mengecewakan, kalah 0-2 dari Meksiko. Sehabis pertandingan, Dunga, yang sebelumnya tak pernah melatih tapi langsung ditunjuk sebagai pengganti Carlos Alberto Parreira pasca Piala Dunia 2006, memberi komentar yang cukup mengejutkan."Sepakbola bukan lagi sebuah seni. Menang adalah target utama," ujar kapten Brasil saat memenangi Piala Dunia 1994 itu, seakan-akan tidak cukup pede untuk memuaskan para suporternya, yang terlanjur cinta pada sepakbola indah ala jogo bonito.Dunga menyadari bahwa materi tim-lah yang membuatnya melontarkan antiteori itu. Dengan Kaka dan Ronaldinho menolak main karena ingin liburan, dan hanya menyisakan Robinho dan Gilberto Silva sebagai pemain bintang, ia tetap mengemban beban berat karena Brasil akan selamanya dilabeli tim favorit pada setiap turnamen yang diikuti.Dunga pun memilih menang saja ketimbang berpikir ekstra bagaimana memetik kemenangan dengan cantik, sebagaimana menjadi filosofi Basile di Venezuela.Argentina mengundang decak kagum ketika menghajar Amerika Serikat 4-1 di laga pertama, lalu berturut-turut menundukkan Kolombia 4-2, dan Paraguay 1-0. Permainan aduhai dan seni mengolah bola yang diperagakan Juan Roman Riquelme cs menjadi tontonan amat menghibur.Di babak knock-out mereka kian impresif setelah menekuk Peru 4-0 dan Meksiko 2-0 di semifinal. Sementara Brasil tetap dianggap tidak luar biasa saat mencukur Chile 6-1, lebih-lebih karena memerlukan fase untung-untungan bernama adu penalti guna menyingkirkan Uruguay di semifinal."Ini bukan sekadar menang. Anda gampang saja memenangi sebuah pertandingan. Tapi memenanginya dengan cara seperti kami membuat saya bangga," cetus Basile usai melawan Peru.Namun pada akhirnya teori Basile tidaklah cukup. Yang dicatat sejarah dengan tintas emas hanya figur juara, bukan runner up. Sedangkan Dunga memilih pragmatis dan mencukupkan sebuah kemenangan. Untuk tim sekaliber Brasil (dan Argentina), ukuran mereka berprestasi sudah jelas: piala. Pada akhirnya Brasil terbukti lebih baik karena piala itu mereka yang bawa pulang, bukan Argentina. (a2s/a2s)











































