Piala Asia
Agar Damai di Irak Tak Cuma 90 Menit
Selasa, 24 Jul 2007 16:00 WIB
Bangkok - Kedamaian 90 menit. Itulah mimpi pelatih Jorvan Vieira setiap kali Irak berlaga di Piala Asia. Kalau bisa menjadi juara, damai itu mungkin bisa bertahan lebih lama di Negeri Seribu Satu Malam.Sabtu (21/7/2007) lalu untuk keempat kalinya sepanjang dua pekan terakhir, desing peluru dan ledakan mortir tak terdengar di penjuru kota Baghdat. Irak yang sudah beberapa tahun bergejolak menjalani kedamaian sepanjang 90 menit saat Younis Mahmoud cs berlaga di Piala Asia.Akhir pekan itu, seluruh Irak malah bisa menggelar pesta besar setelah meraih kemenangan 2-0 atas Vietnam dan memastikan tiket semifinal. Beberapa suku yang bertikai seperti Kurdi, Syiah dan Sunni untuk sementara melupakan pertentangan antara mereka."Kami berhak memiliki mimpi. Tapi kami harus tetap menjejakkan kaki di bumi," sahut Vieira mengomentari keberhasilan lolos ke babak empat besar seperti diberitakan International Herald Tribune.Ini adalah untuk kali kedua Irak lolos ke semifinal di event sepakbola terbesar di benua Asia ini. Dalam rombongan tim yang berjumlah 24 pemain itu, seluruh anggota skuad bisa melupakan dari suku mana mereka berasal dan menjadi satu sebagai Assood Al Rafidain alias Singa-singa Mesopotamia."Anda tahu situsasi di Irak kritis. Kami tahu dari para kerabat kalau semua orang merayakan keberhasilan ke semifinal. Kami berkesempatan membuat sejarah buat sepakbola Irak dan seluruh negara berada di belakang kami," ungkap kiper Noor Sabri Abbas.Rabu (25/7/2007) besok, selama 90 menit Irak akan kembali tenang. Kedamaian yang mungkin bisa kembali terulang empat hari kemudian jika mereka mampu menundukkan Korea Selatan di babak semifinal. Mimpi 90 menit damai milik Vieira mungkin bisa bertahan lebih lama apabila ia mampu membuat rakyat Irak bersatu dalam pesta juara Piala Asia."Kami bisa menyatukan orang-orang dalam satu tim tanpa memperdulikan dari mana mereka berasal karena pada akhirnya mereka adalah sama-sama orang Irak. Kami tahu apa yang terjadi di Irak, tapi kami juga tahu kalau orang Irak mencintai sepakbola," lanjut pelatih asal Brasil yang baru dua bulan bertugas itu. (din/a2s)











































