Menteri Olahraga Italia: Presiden FIGC Harus Diganti!

Menteri Olahraga Italia: Presiden FIGC Harus Diganti!

Mohammad Resha Pratama - Sepakbola
Rabu, 01 Apr 2026 21:30 WIB
Menteri Olahraga Italia Andrea Abodi meminta Presiden FIGC mundur usai Italia gagal ke Piala Dunia 2026.
Menteri Olahraga Italia Andrea Abodi meminta Presiden FIGC mundur usai Italia gagal ke Piala Dunia 2026. (FIGC via Getty Images/Claudio Villa - FIGC)
Roma -

Menteri Olahraga Italia Andrea Abodi meminta perbaikan menyeluruh di sepakbola Italia. Pertama adalah mengganti Presiden Federasi Sepakbola Italia (FIGC) Gabriele Gravina.

Abodi mengatakan ini usai kekalahan Italia dari Bosnia Herzegovina lewat adu penalti di Final Playoff Piala Dunia 2026. Italia gagal melaju ke putaran final untuk tiga edisi beruntun.

Ini tentu jadi prestasi memalukan untuk negara yang sudah empat kali juara dunia, cuma kalah dari Brasil. Prestasi timnas ini pun sejalan dengan pencapaian klub-klub Italia di Eropa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak Inter Milan menjuarai Liga Champions pada 2009/2010, belum ada lagi tim Italia yang melakukan itu. Prestasi terbaik wakil Negeri Pizza adalah AS Roma saat menjuarai edisi perdana Europa Conference League.

ADVERTISEMENT

Prestasi buruk klub dan timnas ini diperparah dengan kondisi persepakbolaan di dalam negeri, terutama finansial yang membuat Serie A kesulitan bersaing dengan Premier League dan LaLiga. Itulah mengapa Abodi menilai FIGC harus direformasi total demi kebaikan prestasi sepakbola Italia ke depannya.

"Saya berterima kasih atas komitmen yang para pemain tunjukkan semalam, tapi ini bukti bahwa sepakbola Italia harus dibangun ulang, dan proses ini harus dimulai dari pergantian di tampuk kepemimpinan FIGC," ujar Abodi dalam keterangan resminya yang dikutip Football Italia.

"Sepakbola adalah olahraga, dan di masa krisis militer serta ekonomi seperti ini, seharusnya tidak jadi beban yang berlebihan.. Di sisi lain, tidak dapat disangkal bahwa sepakbola lebih dari sekadar olahraga, terutama di Italia, di mana sepak bola telah menjadi bagian dari budaya populer, ritual komunal, dan sumber kebanggaan di level internasional," lanjutnya.

"Saya sedih membayangkan bahwa ada banyak generasi anak-anak dan kaum muda yang belum pernah merasakan sensasi menonton tim nasional bermain di Piala Dunia."




(mrp/aff)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads