Perangai Media Inggris

Kolom Sepakbola

Perangai Media Inggris

- Sepakbola
Rabu, 21 Nov 2007 07:14 WIB
Perangai Media Inggris
London - Sungguh perangai media (koran kuning) Inggris ini susah ditebak. Terkadang mereka patriotis berlebihan, cenderung chauvinistic. Kadang mereka paranoid.

Di ain waktu mereka adalah tukang cela, tukang tuduh, dan membabi buta semaunya -- meniti batas untuk hampir tidak mengindahkan kaidah-kaidah baku jurnalistik.

Mereka memang menjual sensasi. Dan dengan berperangai seperti itu sensasi lebih mudah mereka tebar. Merekapun menjadi laku, dibaca orang, dan sangat berpengaruh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jangan anggap enteng, pengaruh mereka kadang jauh melampui batas negara. Tanyalah kepada tim nasional Israel akan hal ini.

Menjelang pertandingan antara Israel melawan Rusia, selama seminggu penuh, halaman belakang-halaman olahraga penuh berisi cerita akan betapa eratnya hubungan persepakbolaan Rusia-Israel.

Cerita rinci mengenai bagaimana Roman Abramovich, cukong persepakbolaan Rusia, membantu persepakbolaan Israel bisa dibaca setiap hari. Entah itu lewat turnamen persahabatan yang rutin diadakan di antara klub-klub Rusia dan Israel, bantuan untuk akademi persepakbolaan Israel, keterkaitan erat antara super agen sepakbola Israel semacam Pini Zahavi dengan Abramovich, bahkan juga kepentingan bisnis Abramovich di negara ini.

Arahnya tentu saja satu: teori konspirasi. Israel pastilah akan mengalah karena sekian banyak utang budi mereka terhadap Rusia (Roman Abramovich). Juga dikutip di sana-sini untuk memperkuat teori konspirasi itu pernyataan-pernyataan yang bernada negatif. Misalnya pelatih Israel yang konon mengatakan lebih memilih Rusia yang lolos ke putaran final Piala Eropa ketimbang Inggris.

Tuduhan semacam ini telah membuat Israel tak punya pilihan kecuali harus memenangi pertandingan. Selain kemenangan, hampir tak terelakkan teori konspirasi, tanpa bukti sekalipun, akan semakin meruyak dan dianggap sebagai kebenaran.

Israel tahu bagaimana rasanya secara politik menjadi negara paria, dan pastilah mereka tidak ingin juga paria dalam persepakbolaan internasional. Karena kalau betul ada konspirasi, UEFA tak akan segan menjatuhkan hukuman kejam.

Sekali lagi Israel harus memenangi pertandingan untuk menghapus keraguan. Hasilnya, tanpa beberapa pemain inti, dengan bermain kesetanan, dan sedikit keberuntungan, Israel menang 2-1, dan membuka lebar peluang Inggris.

Reaksi koran kuning Inggris? Puja-puji berhamburan. Mereka mengatakan tidak seharusnya orang meragukan kejujuran dunia persepakbolaan Israel. Tidak seharusnya teori konspirasi dikemukakan. Lha, memang siapa yang pertama kali mengajukan teori konspirasi? Bukankah mereka sendiri yang mengemukakannya? Esok dele sore tempe, pagi dele sore tempe.

Tetapi begitulah koran kuning Inggris ini. Nyinyir dan puja puji adalah perubahan sikap yang bisa mulus mereka lakukan seperti bernafas saja layaknya.

Menjelang pertandingan menentukan antara Inggris dan Kroasia, mereka sekarang berbicara tentang superioritas tim Inggris. Hasil seri sudah cukup untuk membuat tim Inggris lolos. Tetapi dasar koran kuning, pembicaraan sekarang, dengan penuh optimisme, adalah untuk meraih posisi puncak grup dengan mengalahkan Kroasia sedikitnya 2-0. Seolah hasil itu akan mudah dicapai. Seolah itu hak Inggris untuk lolos sebagai juara grup.

Kalau Inggris sampai tak lolos, tak bisa dibayangkan sumpah serapah seperti apa yang akan muncul. Kalau kemudian lolos, jangan kaget kalau koran-koran kuning ini akan kemudian berbicara jauh melampaui waktu, menempatkan Inggris sebagai tim favorit memenangi Piala Eropa. Pembicaraan yang selalu terjadi setiap Inggris berangkat mengikuti turnamen besar.

Dasar koran kuning!
(lza/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads