Di babak kualifikasi Piala Dunia 1994 Inggris kalah bersaing dengan Norwegia dan Belanda, sehingga tidak lolos ke putaran final turnamen terbesar di dunia itu, yang digelar di Amerika Serikat.
Kegagalan tersebut tidak mereka ulangi di enam kejuaraan besar selanjutnya. Walaupun hasilnya juga beragam tapi poin samanya adalah: tak mampu juara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua tahun kemudian Inggris lolos ke Piala Dunia di Prancis. Kiprah mereka selesai di babak perdelapanfinal, disingkirkan Argentina juga dengan proses adu penalti. Kegagalan mereka "disemarakkan" dengan hebohnya insiden kartu merah David Beckham karena melakukan tekel bodoh terhadap Diego Simeone.
Berikutnya, walaupun lolos ke putaran final, Inggris melempem di Euro 2000 di Belanda-Belgia. Mereka mengalami nasib sama dengan Jerman: tidak lolos dari babak penyisihan grup.
Di Korea-Jepang 2002 Inggris melaju hingga babak delapan besar sebelum ditekuk Brasil 1-2. Lalu, di Piala Eropa 2004 kembali Inggris tidak berjodoh dengan drama tos-tosan. Mereka angkat koper setelah dibekap tuan rumah Portugal via adu penalti di babak perempatfinal.
Lalu, dua tahun lalu Inggris lagi-lagi dijegal Portugal di babak yang sama di Piala Dunia 2006 di Jerman, juga lewat adu penalti. Pelatih Sven Goran Eriksson pun mundur, tempatnya diambil alih Steve McClaren.
Tapi McClaren menandai curriculum vitae-nya sebagai manajer tim nasional dengan buruk. Tim besutannya tersingkir di babak kualifikasi setelah kalah dari Kroasia di laga terakhir di Wembley, Kamis (22/11/2007) dinihari WIB, sedangkan mereka sebenarnya hanya butuh seri.
Ini juga merupakan kali pertama Inggris gagal mengikuti putaran final Piala Eropa sejak 1984. Ketika itu Peter Shilton cs kalah bersaing dengan Denmark. Total, dari 13 edisi Piala Eropa, Inggris hanya tampil tujuh kali di putaran final.
(a2s/ian)











































