Ribuan fans menyambut kepulangan Robert Kovac dkk di bandara Zagreb usai meraih kemenangan sensasional 3-2 atas Inggris di Wembley hari Kamis (22/1/2007) dinihari WIB.
Mereka mengusung bendera negara -- kotak-kotak merah-putih -- dan terus mengelu-elukan para pahlawannya itu, seakan-akan sudah menorehkan sebuah sejarah yang amat hebat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami memadamkan Wembley. 88 ribu penonton boleh berbahagia menyaksikan salah satu permainan terbaik dari sebuah negara kecil, yang membanggakan karena memiliki jiwa pemberani," tukas Bilic.
Harian tersebut juga "memuji" dan mencibir strategi pelatih Inggris Steve McClaren dalam memilih susunan pemainnya. "Terima kasih pula untuk semangat berjudi McClaren yang merangkai timnya seperti seorang pelatih amatir," tulisnya.
Suka cita Kroasia ini sebenarnya βagak berlebihanβ karena tanpa menang dari Inggris pun mereka sudah memperoleh tiket ke putaran final Euro 2008.
Selanjutnya negara yang baru merdeka pada 1991 itu menatap Austra-Swiss dengan optimistis. Eduardo da Silva misalnya. Penyerang asal klub Arsenal itu berani mencanangkan ambisi juara di Austria-Swiss tahun depan.
"Saya akan mengingat kemenangan ini sepanjang hidupku. Kami punya atmosfer yang luar biasa dan staf yang fantastis. Saya percaya kami bisa mencapai semuanya di Austria dan Swiss untuk jadi juara," tukasnya.
Prestasi terbaik Kroasia di kancah sepakbola adalah juara tiga Piala Dunia 1998. Di level Piala Eropa, capaian tertinggi mereka adalah babak perempatfinal di Inggris 1996.
(a2s/a2s)











































