Sukses Rusia (Bukan) Mukjizat

Sukses Rusia (Bukan) Mukjizat

- Sepakbola
Jumat, 23 Nov 2007 05:05 WIB
Sukses Rusia (Bukan) Mukjizat
Moskow - Rusia berhasil bangkit setelah tahun lalu terlempar dari kompetisi besar bernama Piala Dunia. Tahun depan, dengan bantuan (katanya) mukjizat, mereka akan berbicara di Austria-Swiss.

Pada musim panas 2006 orang-orang Rusia tetap membeku seperti mengalami musim dingin berkepanjangan. Mereka hanya menjadi penonton ketika 32 negara berlomba-lomba dalam pesta olahraga terbesar di jagat raya ini.

Rusia ketika itu kalah bersaing dengan Portugal dan Slovakia di babak kualifikasi. Kenyataan pahit tersebut seakan menegaskan bahwa Rusia tidak tangguh lagi dan sudah jauh dari masa kejayaan di kancah sepakbola saat masih bernama Uni Soviet,

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak mantan negara adidaya itu bubar -- sempat satu kali berbendera CIS (Commonwealth of Independent States) di Piala Eropa 1992 --, Rusia tak pernah melewati putaran pertama kejuaraan besar yang diikutinya. Selain Piala Dunia 2006 mereka bahkan tak tampil pula di putaran final Piala Dunia 1998 dan Euro 2000.

Kelas mereka pun seperti mandeg di deretan dua, sebagaimana sedikit pula pemain-pemain top yang lahir dari "Negeri Beruang Merah" itu. Nama-nama besar Lev Yashin, Oleg Blokhin, Rinat Dasaev, Igor Belanov, Sergei Aleinikov, atau Oleg Protasov tidak menitis sangat mirip dengan angkatan-angkatan kemudian.

Beberapa nama beken terakhir yang muncul di antaranya Andrei Kanchelskis, Valeri Karpin, dan Alexander Mostovoi. Tapi setelah itu bintang-bintang mereka relatif tidak setenar bintang dari negara-negara kuat lain di kawasan Eropa.

Tapi sebuah revolusi telah dirintis dengan pionir dari Belanda bernama Guus Hiddink. Usai mundur dari Australia pasca Piala Dunia 2006, Hiddink menggosok-gosokkan tangan emasnya ke skuad Rusia, dan satu tahun kemudian menunjukkan hasilnya.

Bersaing dengan Kroasia dan Inggris, Rusia berhasil lolos dari babak kualifikasi Euro 2008 Grup E. Walaupun tidak dengan statistik luar biasa -- menang 7 kali, seri tiga kali, dan kalah dua kali -- Aleksandr Kerzhakov dkk mampu menyingkirkan Inggris.

Tak pelak ini merupakan sebuah kesuksesan mini dari salah satu negara terbesar di dunia itu. "Ini Mukjizat!" teriak surat kabar Sport Express dalam headline-nya kemarin, setelah Rusia menundukkan Andorra 1-0 dan Inggris dipecundangi Kroasia 2-3.

Benda langka itu boleh saja menjadi kata utama penanda ketercengangan orang Rusia atas kemenangan tersebut. Tapi Hiddink tidak mau meminggirkan kekuatan internal, bahwa setiap orang menentukan nasibnya sendiri.

"Saya tidak percaya pada mujizat (miracle). Saya percaya bahwa kami memiliki sebuah peluang kecil," tukasnya. "Saya senang kami bisa memenanginya. Saya katakan pada para pemain, saya bangga pada kerja keras mereka."

Betul bahwa Rusia jelas terbantu oleh sportivitas Kroasia yang tetap bermain serius menghadapi Inggris, kendati telah memegang tiket ke putaran final. Kawat-kawat ucapan terima kasih pun dikirim koran-koran setempat. "Hvala Vam, Hrvatska!", sergah Soviet Sport, yang dalam bahasa lokal berarti "Terima Kasih, Kroasia!"

Tapi sebagaimana filosofi Hiddink, Rusia telah menuai hasil kerjanya sendiri pula. Presiden Uni Sepakbola Rusia Vitaly Mutko pun menggarisbawahi hal tersebut.

"Saya percaya kami memang pantas mendapat ini semua. Kami lumayan di babak kualifikasi, tapi performa kami saat ini jelas belum yang terbaik," ujarnya.

"Ini belumlah hasil maksimal dari sistem kerja sepakbola kami. Kami baru membuat langkah pertama dalam arah yang benar. Tapi kami harus menggunakan sukses ini untuk kebaikan sepakbola Rusia."

Langkah berikutnya tentu ada di Austria dan Swiss. Hiddink sekali lagi diuji kehebatannya sebagai Raja Midas. Sebagaimana diucapkan seorang fans Rusia, dia telah bekerja dengan sempurna dengan mengantarkan Rusia ke putaran final.

"Sekarang dia harus mengajarkan kami bagaimana cara menang di sana," ujar fans yang bernama Anton Vorobjev itu seperti dikutip AFP.


(a2s/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads