Di malam hari begitu Inggris kalah, di radio, televisi, situs internet, semua orang berlomba menumpahkan kekesalan. Dari yang memaki kasar, sumpah serapah, nyinyir, sok intelek, sok filosofis, hingga yang kehabisan kata-kata.
Seseorang menelpon salah satu acara phone-in sepakbola paling populer dari radio BBC, 606, hanya untuk mengatakan "I donβt believe it" (saya tak percaya) berulangkali kali kemudian menutup teleponnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Media gencar menganalisa keserbasalahan persepakbolaan Inggris. Media gencar berbicara tentang pemecatan Steve McClaren. Media gencar berspekulasi tentang pengganti McClaren. Tetapi penggemar sepakbola Inggris lesu tak bicara.
Dunia bergerak cepat tetapi pengemar sepakbola Inggris bergerak apatis-pasif. Rasa geram dan kecewa sudah begitu meledak membuat mereka seperti mati rasa. Tak tahu lagi harus berbuat apa. Kehilangan pegangan. Kehilangan kepercayaan kepada sistem. "Zombie like experience," kata teman saya dengan tekanan kata yang kosong.
Saya bisa mengerti perasaan teman ini. Sangat susah membayangkan: sementara negara besar sepakbola lainnya berlaga di Piala Eropa, Inggris hanya bisa melihat dari kejauhan. Ini seperti upacara peziarahan besar keagamaan, dengan semua perwakilan umat yang penting berdatangan, tetapi salah satu kelompok umat terpenting dilarang datang karena tidak lolos ujian keimanan. Betapa sakitnya. Betapa runtuh moralnya. Betapa kosongnya. Zombie like experience.
Meminjam bahasa umat Nasrani, domba-domba sepakbola Inggris ini sedang butuh penggembala yang akan membawa mereka kejalan keselamatan. Domba-domba ini sungguh sedang riuh dalam duka dan kebingungan.
Di tangan FA karenanya sekarang terpegang tugas mahaberat. Mereka tidak sedang mencari pengganti McClaren. Mereka tidak sedang mencari pelatih Inggris yang baru. Yang mereka cari adalah juru selamat.
==
*) Penulis adalah reporter detikcom, tinggal di London.
(lza/a2s)











































