Jose Mourinho? Nanti Dulu

Kolom Sepakbola

Jose Mourinho? Nanti Dulu

- Sepakbola
Kamis, 06 Des 2007 08:36 WIB
Jose Mourinho? Nanti Dulu
London - Di Inggris dukungan untuk memilih Jose Mourinho sebagai pelatih baru Inggris semakin tinggi, mulai dari pemain timnas, pelatih klub, sampai komentator bola, dan yang paling penting, media.

Sebenarnya tidak perlu didorong-dorong nama Mourinho pun sudah bisa dipastikan masuk hitungan. Toh catatan prestasinya di tingkat klub tak perlu diragukan lagi.

Tetapi ketika rasa sakit karena gagal masuk putaran final Piala Eropa mulai tersembuhkan, rutinitas keseharian mulai menenggelamkan euforia kemarahan, dan duka mulai terlupakan, mulai ada suara sumbang tentang kemungkinan terpilihnya Mourinho. Mulai terdengar suara penolakan atau setidaknya ketidakyakinan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada karakter yang cukup spesial dari penggemar bola di Inggris. Mereka menginginkan pelatih Inggris yang bisa menampilkan permainan menarik, menang, namun di atas segalanya berkarakter gentleman.

Semenjak Bobby Robson berhenti sebagai pelatih Inggris tahun 1990, seingat saya pelatih-pelatih Inggris selalu kedodoran untuk memenuhi persyaratan gentleman ini dan dipecat.

Kita lihat satu persatu.

Graham Taylor yang menggantikan Robson sejak awal dianggap tidak layak. Dia tidak mampu menjadi panglima perang yang meyakinkan. Karakternya cacat. Taylor dipecat setelah Inggris gagal lolos ke Piala Dunia 1994.

Terry Venables mengambil alih. Ia cerdik dan berwibawa. Permainan Inggris bagus dan menarik. Inggris maju ke semifinal Piala Eropa 1996, tapi kalah adu lewat adu penalti melawan Jerman. Pamor Inggris bersinar dan diperkirakan akan menjadi kekuatan berbahaya. Celakanya, di belakang layar El Tel terlibat skandal keuangan. Cacat karakter. Ia pun mengundurkan diri di bawah paksaan.

Pengganti Venables tak kalah bagusnya, Glenn Hoddle. Dialah pelatih Inggris saat David Beckham dikartu merah saat bertanding melawan Argentina dan kalah lewat adu penalti di Piala Dunia 1998. Tetapi bukan karena kekalahan itu ia dipecat. Pernyataannya bahwa orang yang terlahir cacat disebabkan oleh dosa-dosa di kehidupan sebelumnya, membuat Inggris geger. Bahkan perdana menteri saat itu Tony Blair pun turut mengecamnya. Cacat karakter. Hoddle terpaksa mengundurkan diri.

Kevin Keegan mengambil alih. Tetapi hanya bertahan dua tahun. Ia mundur dengan alasan tak cukup punya kemampuan.

Datanglah Sven Goran Eriksson. Manajer asing pertama tim nasional. Di bawah orang Swedia ini permainan Inggris menjadi membosankan. Namun demikian toh ia membawa Inggris lolos keperempat final Piala Dunia 2002 dan 2006.

Tetapi selama menjadi manajer Inggris, diam-diam dia dianggap menyatakan kesediaannya untuk memegang klub-klub besar Inggris. Aktivitasnya di tempat tidur juga menimbulkan banyak keprihatinan. Apalagi setelah timbul ketegangan di FA ketika ia meniduri sekretaris FA yang kebetulan juga dipacari oleh salah satu direktur FA. Cacat karakter. Iapun disingkirkan.

Steve McClaren mengambil alih. Ia sejak awal memang sudah dianggap kartu mati. Graham Taylor jilid dua, kata koran kuning Inggris. Tak heran, walau ngotot ingin bertahan ia segera disingkirkan begitu Inggris gagal lolos ke Piala Eropa 2008.

Kembali ke Jose Mourinho. Bayangkan kalau ia menjadi manajer Inggris. Akan muncul sekian banyak persoalan di kemudian hari terkait dengan karakternya. Setidaknya beberapa mulai dikemukakan oleh penentang Mourinho.

Ingatkah ketika Mourinho menuduh wasit Anders Frisk memihak Barcelona saat Chelsea bertemu dengan klub itu di Liga Champions? Ia mengatakan melihat salah seorang pelatih Barcelona memasuki ruang wasit saat turun minum dan berbicara dengan Frisk. Ternyata ia berbohong. Pertemuan itu terbukti tidak pernah terjadi.

Ia berbohong lagi ketika mengatakan tidak pernah bertemu dengan Ashley Cole untuk membahas kemungkinan perpindahannya dari Arsenal ke Chelsea. Belakangan Cole sendiri yang mengakui bahwa pertemuan itu memang ada dan terjadi sebelum ijin pembicaraan diberikan Arsenal.

Bisakah orang seperti ini dipercaya memegang tim nasional Inggris, tanya para penentang Mourinho.

Sebenarnya, sedemikian berdukanya penggemar bola Inggris, mereka tidak akan peduli kalau pelatih nasional nantinya dipegang oleh penjahat perang sekalipun, asal bisa membuat sepakbola Inggris bersinar kembali. Demikian tulis seorang pengamat bola di negeri ini.

Tetapi saya tak yakin cacat karakter nantinya tidak akan muncul dan dikemukakan orang, begitu sedikit saja penampilan tim Inggris tidak seperti yang diharapkan. Takut dan khawatirlah. Kalaupun saya jadi Mourinho, dan seandainya ditawari, saya akan berpikir seribu kali untuk menerimanya.




*) Penulis adalah wartawan detikcom, tinggal dan menetap di London.Β  (lza/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads