Penampakan Sekejap Si Tim Amatir

FIFA Club World Cup

Penampakan Sekejap Si Tim Amatir

- Sepakbola
Minggu, 09 Des 2007 18:43 WIB
Penampakan Sekejap Si Tim Amatir
Tokyo - Waitakere United boleh jadi tim yang paling tidak dikenal dalam perhelatan FIFA Club World Cup 2007. Sudahpun begitu, "penampakan" tim amatir dari Selandia baru ini hanya sekejap.

Waitakere United seperti tim "anynomous" karena ia berasal dari benua yang paling tidak populer di belantikan sepakbola: Oseania. Mereka hadir di Jepang dalam kapasitasnya sebagai juara Liga Champions-nya kawasan tersebut.

Namun dalam penampilan langkanya di level internasional, tim yang bermarkas di kota Auckland itu menelan kekalahan 1-3 dari wakil Asia, Sepahan (Iran), dan langsung tersingkir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alhasil Waitakere hanya "nampang" selama 90 menit sebelum harus kembali ke "dunia nyata" bahwa mereka adalah sebuah klub semi-profesional -- bahkan amatir -- di negeri yang tidak gandrung pada sepakbola dan sulit terekspos dunia luar.

Baru dibentuk pada 2004, Waitakere langsung menjadi runner up di musim pertamanya mengikuti Liga Selandia Baru, yang hanya diikuti 12 tim. Musim lalu mereka bahkan tampil sebagai juara, lalu memenangi OFC Champions League (2007) setelah mengalahkan klub Fiji, 4R Electrical Ba, di final.

Yang unik, Waitakere mempekerjakan banyak pemain yang sehari-harinya memiliki pekerjaan lain seperti guru sekolah, manajer kantor, mandor bangunan, dan lain-lain. Mereka berlatih bersama selama beberapa jam, di malam hari setelah bekerja di tempat masing-masing, tiga kali dalam seminggu.

Menurut pelatih Chris Milicich, dulunya tiga perempat anggota skuadnya pernah bermain full time sebagai profesional, kebanyakan di Australia atau Bahrain. Namun mereka pulang ke Selandia Baru untuk menikah dan membangun rumah tangganya.

"Meskipun kami pemain amatir, saya rasa kami tetap profesional dalam mengupayakan agar tetap bersama-sama. Itulah yang menyatukan tim ini," ungkap gelandang impor dari Inggris, Neil Stykes, 32, yang profesi utamanya adalah guru olahraga.

"Yang kami butuhkan saat ini adalah dukungan lebih jauh dan komitmen dari otoritas sepakbola Selandia Baru supaya lebih terekspos di level ini," timpal Milicich seperti dilansir AFP, Minggu (9/12/2007).

Lalu, apa yang diharapkan Waitakere United dari penampilan sekejap mereka di Piala Dunia Antarklub ini? Seorang pemainnya, Commins Menapi, masih menyimpan cita-cita yang lumrah sebagai pemain bola, yakni bermain di liga yang lebih kompetitif.

"Saya ingin bermain di tempat lain, misalnya Liga Jepang" kata penyerang asal Kepulauan Salomon itu, yang di Waitakere United ia mencari nafkah bersama saudara kembarnya.

"Tentu keinginan saya itu tergantung pada permainan saya di lapangan ketika dipantau para pemandu bakat," tambah Menapi yang usainya telah menginjak 30 tahun itu, yang pernah bermain di Liga Australia dan saat ini juga menjadi pengajar sepakbola di sebuah sekolah.




Foto: Bek Waitakere United Neil Emblen (putih) saat beraksi dalam pertandingan timnya melawan Sepahan di FIFA Club World Cup 2007. (AFP/Yoru Yamanaka)

(a2s/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads