Rield (dipaksa) mundur sebagai pelatih timnas negara tersebut setelah skuad Under 23-nya kalah adu penalti dari Myanmar di babak semifinal SEA Games XXIV di Nakhon Ratchasima, Thailand, dua hari lalu.
Cara keluar seperti itu terasa getir untuk seorang pelatih yang telah menaikkan kasta Vietnam. Puncaknya adalah ketika negeri komunis itu menjadi satu-satunya tim Asia Tenggara yang lolos ke babak kedua putaran final Piala Asia beberapa waktu lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ironisnya, pengunduran diri pelatih asal Austria itu diakuinya karena tekanan dari pemerintah setempat. "Saya tahu, presiden (federasi sepakbola Vietnam) mendapat tekanan dari pemimpin negeri ini. Dan setelah kami bertemu, saya katakan pada dia bahwa saya akan mundur," ungkap Riedl dalam wawancaranya dengan Reuters, Jumat (4/12/2007).
"Saya tak memahami orang-orang dan otoritas di Vietnam. Mereka begitu tegang kalau kalah. Mereka begitu under pressure, lalu mencari pihak lain untuk dikorbankan. Saya jadi korban. Agak aneh jika Anda disuruh mundur karena kalah adu penalti."
Riedl memang tergolong kerap berseberangan dengan otoritas sepakbola Vietnam. Namun ia berhasil memenangi hati rakyat negara tersebut berkat prestasi kerjanya selama enam tahun.
Ketika beredar berita dirinya memerlukan operasi cangkok ginjal, berbondong-bondong orang menawarkan bantuannya, termasuk para bankir, sopir truk, dan biksu. Mereka siap menyumbangkan uang bahkan ginjal mereka supaya Riedl tetap bisa bekerja.
"Dunia sepakbola di sini, ketika kami sukses, maka presiden-lah pemenangnya. Tapi jika kami kalah, pelatih-lah sang pecundang," ujarnya lagi. "Cara berpikir orang-orang di sini begitu mudah naik-turun. Anda tak mungkin tersenyum satu detik dan menangis di detik berikutnya."
Tentang masa depan karirnya, mantan penyerang klub Austria Vienna, FC Metz, dan Standard Liege itu mengaku masih berminat melakoni profesi ini, tapi ada hal-hal yang jadi bahan pertimbangan.
"Mungkin saya akan kembali suatu hari nanti. Tapi ada yang telah diajarkan problem kesehatan dan ginjal saya, bahwa sepakbola bukanlah segala-galanya."
Sebelum Vietnam Riedl pernah pula melatih timnas Kuwait dan Palestina. Ia merasa prestasi terbesarnya selama menukangi Vietnam adalah torehan di Piala Asia dan meraih fase final babak kualifikasi Olimpiade.
"Perpisahan saya sangat emosional. Beberapa pemain dan staf, para orang dewasa itu, menangis. Anda percaya itu? Seperti prosesi pemakaman, tapi momen itu sangatlah spesial. Cara pergi seperti ini sungguh tak pernah saya harapkan," pungkasnya.
(a2s/arp)











































