Tetapi evolusi selama seratusan tahun lebih sedikit, sejarah persepakbolaan modern membuat sepakbola tidak lagi satu permainan semata. Tergantung konteks pembicaraan seperti apa.
Ambil contoh penunjukan Fabio Capello sebagai pelatih Inggris. Bagi kedua negara yang tersangkut paut, Inggris dan Italia, ini bukan sekadar persoalan penunjukan pelatih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentu sepakbola Italia kemudian mengambil jalannya sendiri. Latar belakang budaya, mentalitas, dan jaringan kehidupan sosial serta politiknya, akhirnya merumuskan bentuk permainan khas Italia yang sangat berbeda dengan gaya permainan di Inggris. Celakanya memang permainan Italia dianggap banyak penggemar bola, terutama oleh orang Inggris, membosankan.
Namun jelas bahwa prestasi Italia jauh unggul dibanding Inggris. Bukan hanya ditingkat tim nasional, tetapi juga ditingkat klub. Hanya prestasi ini tidak pernah bisa menghilangkan rasa minder dunia sepakbola Italia.
Semakin Italia memamerkan prestasi mereka, semakin mereka mengecilkan Inggris, justru rasa minder semakin menonjol.
Penunjukkan Capello sebagai pelatih tim Inggris seperti memberi selokan untuk meluncaskan luapan emosi keminderan itu, dinding inferioritas harus dijebol, diambrukkan. Getaran energi luapan emosi itu sungguh sangat terasakan.
Coba simak kata-kata yang dirangkai harian La Repubblica, salah satu harian terbesar di Italia. "Setelah seratus tahun lebih memandang rendah kita, orang Inggris akhirnya menyerah kepada mereka yang bermain licik, kotor, dan bertahan, tetapi menang. Capello mungkin harus belajar bahasa Inggris, tetapi ia akan mengajari orang Inggris cara bermain sepakbola".
Atau simak sambutan koran olahraga terbesar Italia, Gazetta Dello Sport. "Bersyukurlah dengan pengakuan positif dari luar negeri sana yang menunjukkan cuaca cerah untuk Italia saat ini. Fabio Capello mengangkat harkat Italia. Penunjukannya merupakan balas dendam kita terhadap mereka yang menciptakan permainan sepakbola".
Masih ada yang menganggap sepakbola sekadar permainan olahraga semata? (lza/din)











































