sepakbola

Nakamura Tentang Italia yang Rasis, Maradona, dan Zico

Terpopuler Jadwal Pertandingan Klasemen Liga Hasil Pertandingan Man of The Match Gila Bola Foto Video

Nakamura Tentang Italia yang Rasis, Maradona, dan Zico


- detikSepakbola

Jakarta - Shunsuke Nakamura bicara banyak kepada situs UEFA mulai dari Italia yang rasis, kehidupannya di tanah Britania, sampai tentang Diego Maradona dan Zico. Apa saja katanya?

Tentang Italia yang rasis, Nakamura mengawalinya dengan analisis penyebab tidak banyaknya pemain Jepang yang meraih sukses di Eropa. Perbedaan gaya bermain dan budaya dikatakannya sebagai dua hal yang cukup menyulitkan proses beradaptasi orang timur di dunia barat.

Dari situ ia melanjutkan dengan gejala rasisme yang masih melekat di tempat-tempat tertentu. "Kadang-kadang Anda juga mendapat perlakukan rasis. Tidak di Skotlandia tapi di Italia, yang mana tidaklah menyenangkan. Mungkin itu sebabnyak sedikit pemain Jerman yang berhasil di sana."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nakamura jauh dari kategori gagal saat tiga musim berkarir di Reggina. Diboyong ke Stadio Orneste Granillo pada pertengahan tahun 2002, saat Reggina promosi ke Seri A di musim itu, klub berjuluk Amaranto itu selalu dibantunya selamat dari jurang degradasi selama tiga musim.

Nakamura pun hijrah ke Celtic pada 2005 dan langsung mereguk kesuksesan. Pemilik tendangan bebas maut itu -- dijuluki David Beckham-nya Jepang -- selalu mendulang tropi juara selama memperkuat Celtic.

Bahkan musim lalu ia kebanjiran penghargaan individu, mulai dari pemain terbaik Liga Skotlandia, pemain terbaik versi asosiasi pemain maupun jurnalis, gol terbaik, sampai pemain favorit fans Celtic.

Nakamura masih punya kontrak satu tahun lagi di Celtic Park. Ia diisukan akan pindah ke Spanyol, Jerman, Brasil, atau Jepang, tapi ia mengatakan mengutamakan Celtic sampai kontraknya rampung.

Saat ini Nakamura sudah makin kerasan tinggal dan hidup di Glagow bersama istri dan anak laki-lakinya. "Umur anak saya dua setengah tahu dan akan punya kamar sendiri. Dia bicara bahasa Inggris lebih baik ketimbang saya," selorohnya.

Mengenai figur idola, Nakamura menjadikan Maradona sebagai sosok yang amat dikagumi. Ia langsung jatuh hati pada maesto Argentina itu sewaktu menonton turnamen pertama di televisi untuk kali pertama, yaitu Piala Dunia 1986.

"Jangan beritahu Zico, tapi Maradona adalah pemain favorit saja," selorohnya seakan-akan membandingkan Maradona dengan Zico, eks pelatih timnas Jepang yang juga memberi pengaruh besar dalam karirnya.

"Zico adalah seseorang yang telah mengubah cara berpikir Jepang soal sepakbola. Dia juga sangat penting buat sepakbola Jepang. Di negeri kami dia seorang pahlawan," pungkas Nakamura.


(a2s/key)











Hide Ads