Stadion yang dimaksud adalah Stadion Ohene Djan di kota Akra, yang dipakai sebagai venue pertandingan pembuka antara Ghana melawan Guinea, Senin (21/1/2008) dinihari WIB.
Kondisi rumput di stadion terbesar di Ghana itu dilaporkan tidak rata dan banyak rumput yang tinggi-tinggi. Pergerakan bola pun menjadi tidak lancar. Padahal, stadion berkapasitas 40 ribu orang itu adalah stadion yang dijadikan markas timnas Ghana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang paling utama, bukanlah kursi di tribun VIP, tapi kualitas (buruk) lapangannya," ujar Le Roy jengah seperti dikutip BBC.
"Saya melatih di Afrika selama 20 tahun, dan ini adalah lapangan terburuk yang pernah saya lihat," imbuh pria berkebangsaan Prancis itu lagi.
"Kami memiliki tim yang berteknik dan ingin bermain dengan pola satu-dua sentuhan. Tapi lapangan membuat permainan kami jadi buruk," ujar pelatih yang pernah bekerja untuk timnas Malaysia tersebut.
Kata-kata Le Roy tidak sekadar keluar dari mulut seorang pelatih yang timnasnya butuh gol di menit terakhir untuk menang. Sebabnya, kemenangan itu memang membawa korban. Bek John Pantsil seusai laga mengaku pusing dan mengalami cedera.
Foto: Seorang pekerja membersihkan tribun Stadion Ohene Djan sebelum partai Ghana vs Guinea (AFP/Issouf Sanogo) (arp/key)











































