Di Italia 18 tahun silam, Roger Milla cs menjadi fenomena di putaran final Piala Dunia di tanah Italia. Dunia ldikagetkan ketika juara bertahan Argentina digebuk 1-0 di partai pembukaan. Kamerun lantas terus melaju sampai perempatfinal, walau akhirnya takluk dari Inggris di babak tambahan waktu. Meski tersingkir, dunia mulai waspada akan kegarangan "Singa-singa Liar nan Perkasa" (Indomitable Lions).
Diberi label tangguh, "singa-singa" itu justru mulai jadi jinak dan tak kuasa mengaum lagi di ajang Piala Dunia. Empat perhelatan usai gelaran tahun 1990, Kamerun tak pernah mampu lewat dari babak pertama, bahkan mereka tak lolos di Piala Dunia 2006 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tahun 2004 Kamerun dijegal Nigeria yang kemudian jadi juara tiga. Selang dua tahun, giliran Pantai Gading yang mendepak Kamerun.
Di Piala Afrika tahun ini Kamerun pun bertekad menunjukkan kalau mereka masih tetap perkasa. Deretan pemainnya juga bukan pesepakbola sembarangan. Di lini depan, misalnya, ada penyerang Barcelona Samuel Eto'o yang tak diragukan ketajamannya. "Samuel adalah pemain terbaik di dunia dan selalu ada di tiga terbaik," puji Pfister seperti dikutip AFP.
Bukan hanya di depan, pemain-pemain bintang juga mengisi tiap lini Kamerun. "Bek Rigobert Song adalah pemimpin sejati dengan banyak karakter dan jangan lupakan gelandang Geremi Njitap, yang sudah pernah bermain untuk banyak klub top Eropa."
"Lalu ada kiper Carlos Kameni, yang bermain amat baik di Spanyol," beber pelatih asal Jerman itu.
Susunan pemain yang dibawa Pfister memang masih terbukti masih manjur karena mampu membawa Kamerun terus melangkah sampai semifinal --catatan terbaiknya usai tahun 2002. Tapi untuk kembali jadi "Raja Afrika" dan bisa mengaum di singgasana juara, singa-singa Kamerun terlebih dulu harus melewati tuan rumah Ghana di semifinal, Kamis (7/2/2008) nanti. Bisa?
(krs/a2s)











































