Menunggu 'Singa Liar' Mengaum Lagi

Piala Afrika

Menunggu 'Singa Liar' Mengaum Lagi

- Sepakbola
Selasa, 05 Feb 2008 16:40 WIB
Menunggu Singa Liar Mengaum Lagi
Jakarta - Kamerun pernah mengejutkan dunia dengan aksinya di Piala Dunia 1990. Satu dekade kemudian, gelar Piala Afrika dua kali beruntun diraih dalam dua kali gelaran. Namun setelah itu Kamerun lebih banyak melempem sehingga julukan "The Indomitable Lions" pun pantas dipertanyakan.

Di Italia 18 tahun silam, Roger Milla cs menjadi fenomena di putaran final Piala Dunia di tanah Italia. Dunia ldikagetkan ketika juara bertahan Argentina digebuk 1-0 di partai pembukaan. Kamerun lantas terus melaju sampai perempatfinal, walau akhirnya takluk dari Inggris di babak tambahan waktu. Meski tersingkir, dunia mulai waspada akan kegarangan "Singa-singa Liar nan Perkasa" (Indomitable Lions).

Diberi label tangguh, "singa-singa" itu justru mulai jadi jinak dan tak kuasa mengaum lagi di ajang Piala Dunia. Empat perhelatan usai gelaran tahun 1990, Kamerun tak pernah mampu lewat dari babak pertama, bahkan mereka tak lolos di Piala Dunia 2006 lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara di ajang Piala Afrika, prestasi Kamerun terbilang cukup lumayan dengan empat kali menjadi raja (1984, 1988, 2000 dan 2002). Namun prestasi itu pun tak bisa disebut anyar. Setelah jadi juara tahun 2002, keperkasaan para singa yang kini ditangani Otto Pfister tersebut hanya bertahan sampai babak perempatfinal.

Pada tahun 2004 Kamerun dijegal Nigeria yang kemudian jadi juara tiga. Selang dua tahun, giliran Pantai Gading yang mendepak Kamerun.

Di Piala Afrika tahun ini Kamerun pun bertekad menunjukkan kalau mereka masih tetap perkasa. Deretan pemainnya juga bukan pesepakbola sembarangan. Di lini depan, misalnya, ada penyerang Barcelona Samuel Eto'o yang tak diragukan ketajamannya. "Samuel adalah pemain terbaik di dunia dan selalu ada di tiga terbaik," puji Pfister seperti dikutip AFP.

Bukan hanya di depan, pemain-pemain bintang juga mengisi tiap lini Kamerun. "Bek Rigobert Song adalah pemimpin sejati dengan banyak karakter dan jangan lupakan gelandang Geremi Njitap, yang sudah pernah bermain untuk banyak klub top Eropa."

"Lalu ada kiper Carlos Kameni, yang bermain amat baik di Spanyol," beber pelatih asal Jerman itu.

Susunan pemain yang dibawa Pfister memang masih terbukti masih manjur karena mampu membawa Kamerun terus melangkah sampai semifinal --catatan terbaiknya usai tahun 2002. Tapi untuk kembali jadi "Raja Afrika" dan bisa mengaum di singgasana juara, singa-singa Kamerun terlebih dulu harus melewati tuan rumah Ghana di semifinal, Kamis (7/2/2008) nanti. Bisa?

(krs/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads