Ghana adalah salah satu negara Afrika paling sukses di dunia sepakbola. Itu kalau ukurannya adalah frekuensi menjuarai Piala Afrika. Mereka sudah empat kali memenangi turnamen tersebut, hanya kalah satu dari pemilik rekor terbanyak, Mesir.
Berbeda di Piala Dunia, negara ini belum punya rapor yang membanggakan. Baru satu kali mereka tampil di putaran final (di Piala Dunia 2006), walaupun pernah dua kali menarik diri dari keiikutsertaannya di Piala Dunia 1966 dan 1982.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah era Pele/Yeboah berakhir di tahun 1998, sinar Ghana redup. Mereka memang sempat menembus babak perempatfinal dua kali berturut-turut di Piala Afrika 2000 dan 2002. Namun itu belum cukup untuk menunjukkan potensi besar negari berpenduduk 23 juta orang itu.
Orang menilai ada jurang generasi (gap generation) karena Ghana tidak mengembangkan talenta pemain-pemain muda mereka yang mengesankan di turnamen-turnamen Piala Dunia yunior di awal hingga pertengahan 90-an. Itu sebabnya Ghana tak menuai hasil baik antara 1998-2003, bahkan tidak lolos ke putaran final Piala Afrika 2004.
Padahal tim Ghana muda yang dijuluki The Black Starlett pernah menjadi runner up Piala Dunia U-20 tahun 1993 dan 2001. Di level yang lebih muda, yakni Piala Dunia U-71 mereka banyak pernah juara dunia kali (1991 & 1995), plus runner up di tahun 1993 dan 1997.
Generasi baru yang menembus final Piala Dunia U-20 di tahun 2001 itu akhirnya menjadi momentum buat Ghana. Mereka mengirim tim muda ke Piala Afrika 2002 untuk menambah pengalaman, lalu beranjak ke Olimpiade 2004, sampai akhirnya menembus putaran final Piala Dunia 2006 sebagai tim dengan rata-rata usia pemain paling muda.
Kini generasi itu sudah mendekati tangga menuju prestasi tinggi lagi. Menjadi tuan rumah Piala Afrika 2008, Ghana sudah tiba di babak semifinal. Bahkan Michael Essien dkk belum pernah kehilangan angka. Setelah memenangi tiga partai di babak grup, mereka juga mampu menyingkirkan tim kuat Nigeria di perempatfinal.
Di semifinal Ghana akan menghadapi rintangan terbesarnya sejauh ini, Kamerun, yang notabene juga juara Afrika empat kali. "Di setiap kompetisi besar, bagian paling sulit selalu semifinal," tukas pelatih Claude Le Roy.
"ngat Piala Afrika 1988: Maroko, yang jadi tuan rumah turnamen, kalah dari Kamerun di semifinal. Di Piala Dunia lalu Jerman juga tersingkir di semifinal. Jadi, semifinal memang selalu langkah tersulit buat menanjak," tutur pelatih asal Prancis itu.
Ghana akan melakoni duelnya melawan Kamerun di Stadion Ohene Djan, Accra, pada hari Kamis (7/2/2008) malam waktu setempat.
(a2s/key)











































