Kemenangan Mesir Angkat Beban Hidup

Kemenangan Mesir Angkat Beban Hidup

- Sepakbola
Senin, 11 Feb 2008 06:21 WIB
Kemenangan Mesir Angkat Beban Hidup
Kairo - Sukses Mesir menjuarai Piala Afrika 2008 meledakkan euforia di ibukota negara itu, Kairo. Semua berpesta dan semua beban hidup yang berat pun sejenak serasa terangkat.

Sebiji gol dari Mohammed Aboutrika ke gawang Kamerun di Stadion Ohene Djan, Ghana, Senin (11/2/2008) dinihari WIB, cukup untuk mengantar tim berjuluk The Pharaohs (Firaun) tersebut untuk mempertahankan gelar juara yang juga mereka rebut tahun 2006.

Sesaat pasca pertandingan di Ghana usai, ribuan orang di Kairo segera turun ke jalan merayakan kemenangan itu. Perempuan-perempuan yang biasanya mengenakan cadar, kini memilih bendera merah-putih-hitam Mesir sebagai bentuk ekspresi diri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laki-laki-perempuan, tua-muda, semua larut dalam kegembiraan. Beberapa orang menyalakan kembang api dan sebagian lainnya menangis terharu.

Tapi bagi seorang warga Kairo bernama Mohammed Saed, kemenangan itu bukan sekedar kemenangan pertandingan sepakbola, tapi setitik kegembiraan dalam hidup warga Mesir.

"Akhirnya sesuatu yang menggembirakan terjadi pada kami. Sesuatu yang menyenangkan," seru Saed sembari mengibar-ngibarkan bendera Mesir berkata kepada AFP.

"Dengan Pemerintahan sekarang, semua hal menyedihkan. Harga-harga (naik), kapal tenggelam dan tabrakan kereta. (Gelar) ini adalah satu-satunya hal yang memberi kami kegembiraan," lanjut Saed yang menonton partai final Piala Afrika itu di pusat kota.

Selain persoalan kehidupan sehari-hari, gelar keenam Mesir di Piala Afrika ini ternyata bisa menjadi sarana persatuan bangsa.

Tak diragukan lagi, sepakbola memang sesuatu yang universal. Terbukti, masyarakat Mesir yang mayoritas Muslim bisa membaur dengan warga beragama Kristen Koptik yang minoritas. Semuanya tak lain dan tak bukan adalah dalam bungkus bernama sepakbola.

"Ini adalah kesempatan langka, di mana tidak ada Islam dan Koptik. Yang ada hanyalah warga Mesir," ucap seorang penganut Koptik bernama Adel Zaki. "Kami merasa bersatu dan ini adalah satu-satunya hal yang kami rayakan bersama."

Foto: Kapten Mesir, Ahmed Hassan, mengangkat Piala Afrika (AFP/Gianluigi Guercia)

(arp/ian)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads