Karena pertandingan tersebut bersifat resmi, yang diselenggarakan langsung oleh FIFA, maka pemutaran lagu kebangsaan dan pengusungan bendera masing-masing negara menjadi hal yang wajib.
Masalahnya, pihak Korut yang akan bertindak sebagai tuan rumah -- di Pyongyang pada 26 Maret -- disinyalir menolak dua hal tersebut. Demikian dilaporkan koran Dong-A Ilbo yang dilansir AFP, Senin (11/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebenarnya ada opsi mengusung bendera Peninsula Korea dan lagu tradisional Arirang, sebagaimana mereka pakai bersama saat upacara pembukaan Asian Games 2006 di Doha, Qatar. Namun ide tersebut ditolak Korsel karena ini menyangkut pertandingan di antara kedua negara.
"Kami hanya mau menggunakan bendera dan lagu kebangsaan kami. Sekarang bola ada di pengadilan Korea utara," sambung Cho. "Kalau kami tak mencapai kesepakatan, kami takkan menepis kemungkinan bermain di negara netral."
Korut dan Korsel secara teknis masih terlibat perang sejak berakhirnya konflik Korea pada 1950-1953, dan masing-masing negara belum ada yang mengakui eksistensi yang lain.
Di tahun 1990 timnas kedua negara pernah melakukan pertandingan persahabatan di Pyongyang dengan harapan membuka jalan reunifikasi. Namun sampai kini harapan tersebut belum terwujud.
(a2s/din)











































