Empat tahun lalu Portugal dua kali ditaklukkan Yunani dalam gelaran Euro 2008. Setelah kekalahan mengejutkan di laga pembuka, skuad besutan Otto Rehhagel kembali mempecundangi pasukan Luiz Felippe Scolari di laga puncak.
Setelah pertandingan yang berakhir dengan kemenangan 1-0 untuk Yunani itu kedua negara tersebut tak pernah lagi berhadapan, setidaknya sampai malam nanti. Jadi, meski sudah berusia empat tahun, jangan salahkan Portugal kalau masih menyimpan dendam yang ingin mereka tuntaskan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi usaha menuntaskan dendam tersebut mungkin tak akan mudah karena absennya beberapa pilar Portugal. Selain duo Manchester United, Cristiano Ronaldo dan Nani, Scolari juga ditinggal Deco, semuanya mengalami cedera.
Kalau Portugal dihadang cedera pemain, Yunani juga terkendala masalah lain yang mungkin lebih gawat. Saat melakukan konferensi pers sebelum pertandingan, Rehhagel menyebut timnya tak punya kesiapan untuk berlaga di Austria-Swiss.
Selain itu Yunani juga dihadang masalah non teknis terkait masa depan sang pelatih. Dengan kontrak yang akan habis musim panas ini, pelatih berkebangsaan Jerman itu belum menyepakati deal baru.
Portugal jelas mengejar kemenangan demi memantapkan persiapan menuju Euro 2008. Tapi ternyata tak semua anggota skuad mereka setuju dengan label balas dendam untuk laga tersebut, karena menurut Simao Sabrosa yang terpenting adalah mempersiapkan diri
"Kalimat itu (dendam) terdengar terlalu agresif. Kami akan menunjukkan kalau kami sudah dalam penampilan terbaik. Kami harus membuktikan di atas lapangan kalau kami lebih baik," seru Simao Sabrosa.
Foto: Tangisan Cristiano Ronaldo saat Portugal dikalahkan Yunani di final Piala Eropa 2004.
(din/ian)











































