Perangai Eropa MU

Jelang Final Liga Champions

Perangai Eropa MU

- Sepakbola
Rabu, 21 Mei 2008 08:17 WIB
Perangai Eropa MU
London - Ketika April 2000 Real Madrid menyingkirkan Manchester United, pelatih Real Madrid, Vincente del Bosque, mengucapkan kata-kata yang selalu diingat orang, ''Ferguson seorang taktikus anarkis.''

Bukan satu ejekan atau kecaman, namun ungkapan kekaguman campur rasa tak percaya akan adanya seorang manajer sepakbola yang seperti enggan berperilaku pragmatis.

Menurut Del Bosque, Ferguson seperti tidak mempedulikan konvensi taktik tradisional kompetisi Eropa. Misalnya, Ferguson dianggap tidak memperhitungkan bila mencetak gol dikandang lawan itu lebih bernilai. Bermain seri 0-0 di kandang dianggapnya bukanlah bencana. Satu pertandingan tidak harus berakhir dengan menang kalah, yang penting lolos ke babak berikutnya. Yang ada dibenak Ferguon hanyalah menyerang, menyerang, berapapun harga yang harus dibayar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak heran kalau MU di bawah Ferguson, dengan perangai permainan seperti itu, boleh mendominasi Inggris, tetapi baru sekali sukses di Liga Champions. Dalam kompetisi dengan sistem gugur, perangai permainan Paul Scholes dkk tidak cocok dan akan lebih sering keluar menjadi pecundang.

Ucapan Del Bosque itu rupanya menjadi pemantik pada diri Ferguson untuk berubah. Pelan tapi pasti ia mengumpulkan pemain yang dianggapnya akan mampu memainkan satu sistem permainan (baru untuk Ferguson) yang menurutnya cocok untuk kompetisi Eropa.

Dan abrakadabra, di kompetisi Liga Champions musim ini MU betul-betul berubah perangai. Ferguson memerintahkan anak buahnya untuk memainkan formasi 4-5-1, kadang 4-3-3 dengan kelenturan perubahan posisi pemain yang sangat. Formasi 4-4-2 yang sangat disukainya disimpan dan hanya sekali-kali dikeluarkan.

Tujuannya jelas, Ferguson lebih menekankan pertahanan ketimbang penyerangan. Tidak ada lagi serangan tanpa henti layaknya serangan lebah seperti di tahun 1999 saat mereka juara. Serangan tajam cepat menyayat tentu masih dilakukan, tapi lewat sebuah perhitungan, bukan insting plus improvisasi.

Ferguson membentuk tim yang bisa bermain cantik dan indah kalau diperlukan, tetapi tidak segan bermain membosankan dan displin kalau keadaan memaksa demikian. Repertoire permainan yang selama ini tidak dimiliki oleh tim-tim bentukan Ferguson.

Perubahan ini sangat kentara dalam jumlah gol yang dicetak maupun jumlah kebobolan. Di musim 1998/1999 MU menjadi juara Liga Champions dengan mencetak 29 gol dan kemasukan 16. Tahun ini mereka baru mencetak 19 gol, tetapi hanya kemasukan lima gol. Satu angka statistik yang tidak bisa dibantah akan adanya perubahan perangai itu.

Perubahan ini membuat seorang taktikus anarkis lain, Johan Crujff, kecewa berat. Ia langsung menyebut apapun yang nantinya diraih oleh tim MU yang sekarang ini, mereka bukanlah tim yang hebat. Setidaknya kalah hebat dari MU di tahun 1968 dan 1999.

Sebetulnya banyak juga gumaman ketidakpuasan dari sebagian pendukung MU pada perubahan itu. Mungkin mereka merasa ada sesuatu yang kurang dengan permainan tim mereka. Meski demikian yakinlah bahwa jika MU mengalahkan Chelsea, gumaman ketidakpuasan itu akan larut dengan sendirinya. (a2s/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads