Oh, Anelka

Oh, Anelka

- Sepakbola
Kamis, 22 Mei 2008 09:24 WIB
Oh, Anelka
Moskow - Kali ini Nicolas Anelka tidak "diam-diam menghanyutkan". Ia tidak membawakan keberuntungan buat Chelsea, kecuali dia mengucurkan airmata di Luzhniki Stadium.

Masuk di masa perpanjangan waktu dalam laga puncak Liga Champions, dinihari tadi, Kamis (22/5/2008) WIB, Anelka tentunya diharapkan menjadi mesin tambahan untuk penyerangan skuad Avram Grant, saat kedudukan dengan Manchester United masih sama kuat 1-1.

Tapi ia tak punya waktu banyak untuk menunjukkan segala kehebatannya. Permainannya buat The Blues relatif tidak signifikan. Skor pun tidak berubah sampai menit 120 dan harus dilanjutkan dengan adu penalti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Grant tidak menjadikan Anelka sebagai lima algojo utama, tapi penyerang Prancis itu ditunjuk sebagai eksekutor ketujuh, setelah kedudukan masih imbang. Anelka membawa beban sangat berat karena harus membalas gol keenam MU yang dicetak Ryan Giggs. Kalau gagal, Chelsea habis.

Anelka adalah pribadi yang tertutup dan pendiam. Banyak rekannya pun mengatakan dia tak banyak bicara di dressing room maupun saat berlatih, tapi juga bukan sosok yang sombong, malah sebaliknya.

Pria 29 tahun itu memang pernah mendapat julukan "The Indredible Sulk" karena sangat tergantung mood alias moody. Ia gampang merajuk. Kalau ngambek, dia bisa menjengkelkan terutama karena mempengaruhi performanya di lapangan. Itulah antara lain cerita inti tentang kegagalan dia berkarir di Real Madrid (1999-2000).

Tapi sifat moody itu perlahan-lahan memudar, terutama setelah ia kembali berkarir di Inggris, saat membela Liverpool pada Januari 2002, setelah mengawali karirnya di Paris St Germain, lalu ke Arsenal, Madrid, dan kembali ke PSG.

Anelka kemudian merambah kesuksesannya bersama Manchester City (2002-2005) sebelum hijrah lagi, kali itu ke tanah Turki. Bersama Fenerbahce ia memenangi Liga Turki 2005. Setahun kemudian ia kembali ke Inggris dan bergabung dengan Bolton Wanderers.

Chelsea merekrutnya pada Januari 2008 dengan transfer fee 15 juta poundsterling. Nilai itu menjadikan Anelka pemain termahal dalam sejarah sepakbola, jika nilai total penjualannya dari satu klub ke klub lain digabung, yakni 87 juta pounds.

Dengan karakternya yang tetap 'pendiam', Anelka menjadi pelapis buat Didier Drogba. Selama setengah musim ia lebih sering menjadi pemain pengganti. Hanya dua gol ia sumbangkan buat klub London itu, tapi ia sering mendapat poin positif sebagai team player.

Dan tim membutuhkan dia untuk mengeksekusi tendangan penalti di Luzhniki Stadium. Sayang, tembakannya ke arah kiri dapat dibaca dan dimentahkan kiper Edwin van der Sar. Chelsea menelan kegagalan. Pupus kesempatan menjadi juara.

Anelka lesu. Wajahnya begitu sendu, melebihi Kapten John Terry yang juga gagal dalam drama tos-tosan tersebut. Lalu Anelka menangis tersedu-sedu. Ia tahu, dirinya turut menyebabkan Chelsea mengecap ketidakberuntungan di final pertamanya di Liga Champions.

Tapi sesungguhnya Anelka hanya tidak beruntung, sebagaimana adu penalti lebih bersifat adu keberuntungan. Sang manajer, Avram Grant, pun menghiburnya dengan kebapakan.

"Kontribusi Nicolas buat kami di musim ini sudah bagus, terutama ketika kami sangat membutuhkannya. Penalti? Bahkan (Cristiano) Ronaldo pun, yang adalah algojo penalti terbaik Manchester United, bisa gagal," tutur Grant.

(a2s/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads